Jl. Jokoriyo, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64129

0895-3370-22132

Perpustakaan IAIN Kediri adalah perpustakaan yang berada dibawah naungan IAIN Kediri dan merupakan salah satu unit penunjang dalam mencapai tujuan IAIN Kediri. Dengan demikian tugas pertama Perputakaan IAIN Kediri adalah mendukung pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi melalui pemberian layanan sumber informasi.

Contact Info

Jl. Jokoriyo, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64129
[email protected]
0895-3370-22132

Follow Us

Belajar itu kebutuhan ataukah keinginan sendiri ???

Pada dasarnya kita perlu belajar, karena belajar merupakan kegiatan yang mengasah sel-sel otak supaya dapat berkembang dan sebagai proses tranformasi disegala aspek. Perkembangan yang dimaksud ini ditujukan kepada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga domain inilah yang sekarang dibumingkan oleh pemerintah. Ketiga domain inilah yang sangat diharapkan dimasa pacekliknya pendidikan. Masa-masa yang terasa manis akan tetapi membunuh karakter seseorang di zaman serba era global ini. Dikatakan membunuh lantaran tidak banyak mereka menyadari apa arti penting dari proses belajar. Selama ini konsep yang dijunjung tinggi malah membius kaku pada kognitif,afektif dan psikomorik kaum pelajar.

Proses belajar yang memaksa pada ANAK akan menimbulkan ketidaktulusan anak pada PROSES BELAJARNYA

Banyak kaum terpelajar kehilangan konsern pada pengembangan ketiga domain diatas. Konsern hari ini pada kaum terpelajar hanyalah pada instandnya proses pembelajaran. Banyak kaum terpelajar berada digaris aman untuk pengembangan domain ini. Aman lantaran telah dibiuasnya sel-sel otak mereka dengan kepentingan di era global. Yakni kepentingan untuk memenuhi kehidupan dimasa akan memasuki pekerjaan. Memang benar sesuai dengan apa yang digariskan oleh pemerintah bahwa pendidikan juga bertujuan untuk menunjang dunia pekerjaan. Yang menjadi masalah adalah ketika kaum terpelajar kehilangan konsern pada proses pembalajaran pengembangan ketiga domain tersebut. Realitas itu membuat teriakan kalimat �Yakni belajar karena kebutuhan�.

Dewasa ini virus-virus inilah yang membuming dikaum terpelajar, virus instan pada tujuan pekerjaan yang membunuh karakter manusia. Banyak ditemui dilapangan khususnya di sekolahan dan perkampusan bahwa kenapa belajar yang instan -dalam artian belajar karena kebutuhan- ini kerap sekali sifatnya sementara. Belajar ini seakan-akan tidak ada artinya, belajar sekarang (dikelas) yang membuat orang bermasalah dan mendadak gawat -kepanikan kepanikan- akan beroutput pada kesementaraan. Memang, mereka mengerjakan dan segera mengumpulkan tugas tersebut akan tetapi, sekali lagi yang menjadi masalah ialah pasca kewajiban (pengumpulan tugas) tersebut dengan pengasahan sel otak yang katanya pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik.

angat sering sekali bahkan setiap hari di lembaganya kaum terpelajar, konsep belajar karena kebutuhan ini masih merajalela. Salah satu bukti yang ada ialah adanya materi-materi yang dikira penting oleh guru, itulah yang dibutuhkan peserta didik di masa mendatang (jika mau menjadi guru). Ambil contoh materi-materi di TARBIYAH khususnya, pembuatan Rancangan Proses Pembelajaran (RPP), silabus, pembuatan program tahunan (Prota) dan pembuatan program semester (Prosem) dan ilmu-ilmu yang menunjang keguruan Pendidikan Agama Islamlah yang kembali membuat mahasiswa menjadi mendadak gawat. Sekali lagi gawat karena kewajiban yang dikerjakannya bersifat paksaan sehingga outputnya adalah kesementaraan. Benarkah realitas itu yang terjadi sekarang di lembaganya kaum terpelajar ?

Tak heran jika nantinya kaum terpelajar setelah kelulusan tidak seperti yang diharapkan oleh masyarakat dan bangsanya. Tak sesuai dengan apa yang diharapkan sebelum masuk sekolah. Ini semua implikasi hilangnya konsern kaum terpelajar pada prosesnya selalu diiming-imingkan oleh selembar kertas yang menjamin kehidupannya kelak serta proses belajar karena kebutuhan dengan dasaran kewajiban sebagai kaum terpelajar. Kewajiaban kaum terpelajar hanyalah kuliyah, lulus cepat lalu kerja. Kritis itu haram. Berbeda jika konsern kaum terpejalar diproses pencarian ilmunya dengan diri sendiri. Belajar karena kehendak sendiri ini sangat jarang yang membenarkannya, Karena telah hilangnya kepercayaan sejak dini pada anak. Maindset anak-anak yang selalu dibimbing dan diarahkan ke kebenaran membuat orang yang lebih proses dahulu lah yang menafikkan kepercayaan pada anak untuk belajar.

Memang keberagaman dalam memasuki dunia perkuliah tidak menjadi alasan, berbeda-beda niatan untuk masuk dunia perkuliayahan tidak menjadi masalah karena ini adalah kodratnya lembaga yang menghalalkan kaum terpelajarnya masuk dengan berbagai alasan. Kecuali lem-baga yang homogenkan kaum pelajarnya. Maka kesalahan tidak pada keheterogennya kaum ter-pelajar di lembaga itu. Ketika lembaganya kaum terpelajar telah menghalalkan keheterogenan kaum pelajarnya, maka sangat menyeleweng dan tidak pantas jika sebuah lembaga membuat proses pembelajaran dengan nawacita lembaga tersebut. Tanpa merawat dan menuntun kodrat yang sudah ada di dalam kaum terpelajar. Secara tidak langsung harkat kemanusiaannya terampas dengan nawacita lembaga. Sangat ironis jika ini tidak disadari oleh kaum terpelajar.

Kaum terpelajar telah disibukkan dan dibutakan oleh belajar yang bersifat kebutuhan dan kewajiban diatas. Inilah yang membuat kaum terpelajar tidak menyadari harkat kemanusiaannya dirampas serta kehilangan kosnern pada belajar lantaran keinginan kaum terpelajar itu sendiri. Bangunlah kembali dari tidur panjang ini.  

Keadaan ini sangat berbalik arah jika, proses pembelajaran itu sesuai dengan keinginan kaum terpelajar tanpa diinterfensi oleh nawacitanya lembaga dan interfensi-interfensi kaum yang telah berproses terlebih dahulu. Kaum terpelajar jika sejak kecil disodorkan dengan konsep pembelajaran seperti yang diinginkannya sendiri, maka ini akan berimplikasi pada proses pengembangan nalarnya. Proses yang kritis pada kognitif kaum terpelajar itu sendiri. Tidak berhenti pada pembentukan pola kekritisan melainkan menumbuhkan daya rasa ingin tau yang natural terus menerus. Sering kali rasa ingin tahu yang natural ini hilang berselang waktu belajar di lembaga. Lagi-lagi ada interfensi nawacita sebuah lembaga melalui bahan ajar yang disajikan secara manis dengan berdalihkan kewajiban sebagai kaum terpelajar.

Belajar dengan rasa ingin tau ini yang harus dikembalikan oleh dokma-dokma bahan ajar. Rasa yan mendalam ingin mengetahui sesuatu itu dapat ditumbuhkan dengan keinginan polos pada waktu kecil. Jika ditelaah secara agama, setiap orang yang terlahir di dunia itu, dengan fitrahnya masing-masing. Fitrah dapat diartikan oleh sebuah potensi. Potensi dasar �jika mengacu konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara- yang sudah ada itu seyogyanya dirawat dan dikembangkan oleh lembaga dengan bahan ajarnya dengan menumbuhkan motivasi pada anak.

Selain dari pada itu Ibnu Khaldun juga bersependapat dengan paradigm bahwa anak sejak kecil dibiarkan tumbuh dengan sendirinya, hanya kehendak untuk mau mengetahui segala sesuatulah yang membedakan dengan anak yang satu dengan yang lain.

cdMana yang benar-benar PENDIDIK ????�Bila tidak dipaksa maka anak tidak akan belajar. Jangan permisif !!! Lebih baik seribu anak strees daripada sejuta anak bodoh� _ Yufuf KallaVS�Anak hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun kodrat itu� _Ki Hajar Dewantara Pembelajaran dengan paksaan menimbulkan motivasi semu anak dan mematikan gairah belajar. Saat paksaan itu TIDAK ADA, Anak akan berhenti belajar PENDIDIKAN PAKSAAN HANYA BERSIFAT SEMENTARAba 

Berita Lainnya