ANTARA ESENSI PERPUSTAKAAN DAN EKSISTENSI MAHASISWA

Negara kita merupakan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang lebih dikenal dengan NKRI. Indonesia merupakan negara yang sangat spesial dari berbagai Negara ang ada, bagaimana tidak Indonesia memiliki agama, suku, ras, pulau, hewan, dan tumbuan yang begitu banyak dan tersebar dari Sabang sampai Merauke, tapi apakah Indonesia sudah menjadi negara yang terdepan dan yang paling depan? Tentulah belum. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kekurangan para pakar atau pemikir, hal itu bisa dilihat dari kurang minatnya para pelajar, murid, siwa, bahkan mahasiswa yang tidak menggemari membaca, apalagi pergi ke perpustakaan.

Perpustakaan adalah salah satu aset paling urgent bagi maju tidaknya suatu lembaga, lebih umumnya untuk suatu Negara. Karena perpustakaan sebagai penyumbang pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlukan untuk merekontruksi nalar pikir pembaca. Bagaimana tidak, perpustakaan menyimpan berbagai pustaka yang berisi ilmu baik ilmu yang sudah dulu dan ilmu sekarang, dan juga perpusakaan menyipan buku tentang segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk kehidupannya. Perpustakaan dengan bukunya sebagai jendela dunia dan guru yang tidak pernah lupa dan dapat dibawa dimana saja dan kapan saja seharusnya menjadi salah satu kebutuhan wajib untuk disambangi setiap waktu, untuk mencari berbagai data atau informasi yang diperlukan maupun sekedar tempat rekreasi praktis dan edukatif untuk menambah wawasan.

Bahkan disebutkan dibeberapa sumber yang ada, sangatlah mudah untuk menghancurkan kebudayaan suatu bangsa. Hanya tinggal membakar saja seluruh buku pustaka yang ada, dan menggantinya dengan buku pustaka baru untuk menghasilkan kebudayaan yang baru juga. Begitu pentingnya buku dan perpustakaan untuk kehidupan selanjutnya. Bahkan jika kita menyadari bahawa Nabi Muhammad mendapat wahyu pertama kali adalah membaca, meskipun beliau adalah seorang yang ummi (tidak bisa baca dan tidak bisa tulis) tapi beliau tetap dipaksa oleh malaikat Jibril untuk memacanya, hal itu di dapat kita ketahui  dalam al-Qur’an pada surat al-Alaq.

Jika kita ingin mengenal mengetahui bahkan untuk menguasai ‘ dunia’ maka bacalah buku. Begitu pula sebaliknya, jika dunia ingin mengenal kita maka tulislah buku. Begitu lekatnya buku dengan kehidupan kita, maka seharusnya buku tidak boleh lepas dari kita dan dimanapun buku itu sebagai teman kita, bahkan bisa menjadi pasangan kita yang selalu teringat dan terbyangkan di dalam otak kia.

Mahasiswa saat ini atau yang bisa kita sebut dengan “mahasiswa zaman now” sangat lah berbeda kulturalnya dengan mahasiswa dahulu atau “mahasiswa zaman old” mahasiswayang terkenal dengan intelektulannya sekarang hanya tinggal telek-nya saja(baca : kotoran). Tempat favorit mereka adalah kantin, warung kopi, kos, kontrakan dan juga mall, yang hanya untuk memenuhi kebutuhan hedonis mereka, refreshing juga diperlukan agar menyegarkan otak, otak tidak penat dan tidak menyebabkan depresi, bahkan bisa menjadikan stres.

Tempat tempat yang seharusnya sebagai tempat hiburan malah menjadi tempat tongkrongan yang menyita banyak sekali waktu, inilah mahasiswa suka membolak balikkan semuanya, yang seharusnya dikunjungu malah ditinggal dan seharusnya ditinggal malah dikunjungi,  mungkin itu adalah tabiat anak remaja yang masih labil dan masih membutuhkan pengarahan agar menjadi terarah dan lebih benar lagi, agar bisa berwawasan luas dan juga agar berintelektualitas.

Perpustakaan yang seharusnya sebagai tempat rujukan, persinggahan bahkan untuk tempat hidup telah mereka lupakan, mereka ingin menjadi dan diakui sebagai mahasiswa zaman now yang lebih mengedepankan hedonismenya daripada intelektualannya, ingin diakui dari pada mengakui, ingin dikenal dari pada mengenal, dan ingin ingin yang lain lagi.

Sebab lain yang menjadikan mahasiaswa mulai enggan untuk pergi ke perpustakaan yaitu banyak sekali, diantaranya, yakni keluangan waktu dan jangkauan keberadaan tempat, hal itu dikarenakan biasanya perpustakaan terletak di lantai atas, jauh dari tempat keramaian,dan lain sebagainya. Selain itu kurangnya pemahaman tentang perpustakaan juga menjadi hal yang penting untuk diketahui , banyak yang memahami perpustakaan hanya unutk orang yang pintar saja atau hanya untuk orang yang suka membaca buku saja, padahal itu tidak, bahkan sangat salah sekali. Seorang yang sering mengunjungi perpustakaan biasanya mempuiyai ‘image culun’ , yaitu anak yang katrok, kurang keren, dan tidak mengetahui dunia luar secara luas. Semua alasan diatas adalah sebagian kecil dari beberapa alasan yang ada, dan alasan yang sesungguhnya yaitu lebih efisien menggunakan internet sebagai sumber pengetahuan ataupun sumber rujukan, dikarenakan mudahnya mengakses google dari pada perpustakaan akhirnya mereka memilih untuk mengakses semua bahan perkuliahan dari internet.

Dengan adanya teknologi yang semakin maju di era globalisasi ini membuat dua spekulasi yang berbeda, yang pertama yaitu jika kita dapat memanfaatkannya maka kita akan bisa menguasi internet tersebut lebih-lebih dapat menguasai globalisasi tersebut, kemuadian spekulasi yang kedua yaitu ketika kita kita tidak dapat menguasianya maka kita akan menjadi budak dari internet itu, yang setiap hari, bahkan setiap jam, bahkan setiap menit, bahkan pula setiap detik harus dilihat dan juga di cek, dan itu memperlukan waktu yang tidak sedikit pula bahkan menghabiskan waktu ber jam jam. Dampak lain yaitu ketika sudah asyik dengan internet yang sebegitu mudah maka kita akan terlena baik waktu ataupun suasana, dikarenakan semua tugas yang kita dapat tersedia di internet akhirnya kita mencari jalan mudah yaitu dengan cara mengcopy dan paste

Kalau kita menyebut perpustakaan pasti yang terlintas dalam benak kita adalah membaca buku, dan itu seharusnya yang harus terjadi, di perpustakaan haruslah membaca buku bukan melakukan hal yang lain lagi. Sekarang ini membaca buku adalah kegiatan yang kurang menarik dan juga tidak disukai  bagi sebagian orang, bahkan membaca adalah hal yang sangat tidak disukai bagi sebagian orang. Sekarang ini, mahasiswa cenderung menganggap bahwa membaca buku adalah kegiatan yang kuno dan membosankan (seperti yang dijelaskan diatas). Padahal jika ketahui membaca buku sangatlah bermanfaat baik untuk saat ini ataupun untuk masa mendatang, manfaat untuk saat ini bisa kita implementasiakan dalam tulisan, bisa membantu membuat makalah dan juga menambah pengetahuan kita agar mempermudah untuk kita berdiskusi dalam suatu forum.

Dalam bangku perkuliahan untuk menyerap ilmu secara totalitas itu tidaklah mungkin, karena dalam perkuliah kita terbentur dengan formalitas untuk mendapat nilai dan terkekang oleh waktu, akhirnya untuk memenuhi kekurangan ilmu kita dikelas seharusnya kita harus sering mengunjungi perpustaan yang ada di dalam kampus, memang perpustakaan tidak membutuhkan kita, dan jika kita tidak masuk ke perpustakaan ia tetaplah disebut sebagai perpustakaan, tetapi kitalah yang membutuhkannya, kita butuh ilmu darinya, kita butuh buku darinya dan kita butuh apa saja yang ada didalamnya.

Jika kita menganggap perpustakaan sebagai tempat unutk nongkrong sesama teman mungkin setiap hari kita akan mengunjunginya tetapi ketika image kita ke perpustaan sudah jeleka, perpustakaan itu tempat yang membosankan, menjenuhkan maka kita juga tidak akan mengunjunginya meskipun kita membutuhknannya.

Akhirnya jika kita bisa memanfaatkan perpustakaan yang ada disekitar kita (apalagi yang ada dikampus),dengan mengunjunginya dan membaca buku  yang ada didalamnya kita bisa mengambil sesuatu yang berguna kan menambah wawasan kita dan juga dapat mengasah intelektualitas kita. Maka kita analogikan perpustakaan adalah gudangnya ilmu, dimana gudang itu adalah tempat penyimpanan, jika kita ingin mengambil dan memanfaatkan apa yang ada di gudang, maka langkah pertama kali kita haru masuk terlebih dahulu agar kita mengenali seluk beluknya gudang itu, setelah kita mengetahui seluk beluknya barulah kita berleluasa unutk melakukan apapun dan memanfaatkan apa yang ada didalamnya.

Dengan kata lain,perpustakaan bisa menjadi tempat belajar disamping sekolah formal tanpa harus ada guru pembimbingnya dan perpustakaan juga bisa menjadi sekolah kedua bagi kita,selain sekolah formal yang biasanya tanpa harus mengesampingkan sekolah utamanya, yaitu kampus dimana tempat kita bertemu dengan dosen dan saling bertukan pikiran dengannya, karena pada dasarnya kita bisa mengunjungi perpustakaan kapan saja. Maka dari itu,sebaiknya budaya membaca perlu dilestarikan agar perpustakaan menjadi tempat yang banyak peminatnya dan dapat menjadi tempat kedua setelah kita pulang dari bangku perkuliahan, kalau kita bisa berfikir lebih maju sedikit maka kita akan mengetahui bahwa perpustakaan sangat bermanfaat, selain itu unutk mengakses perpustakaanpun tidak begitu sulit bahkan semua menggratiskannya dan tidak dipungut biaya sepeserpun, karena mengunjungi perpustakaan itu bukan masalah biaya tetapi hanya masalah kemauan, apakah kita mempunyai kemauan unutk menambah ilmu dan mengasah keintelektualitas kita atau malah kita ingin ber santai ria dengan mengisi waktu kekosongan dengan mengobrol kesana sini di tempat tongkrongan.

Alangkah baiknya jika perpustakaan dijadikan sebagi tempat berlabuh mahasiswa baik itu dari berbagai fakultas ataupun jurusan yang berbeda, dan disana mereka saling melontarkan argumen dalam satu forum yang sama, melepas semua atribut kasta ataupun strata dan hanya satu pandangan dan tujuan yaitu mendiskusikan ilmu, hal itu bisa juga didukung oleh pihak kampus umumnya dan pihak perpustakaan khususnya agar mencetak mahasiwa yang berintelektualitas tinggi. Perpustakaan sebagai sentral basis mahasiswa dan juga dosen mungkin, semua itu akan mempercantik dan memperindah suasana kampus yang telah lama terlihat suram, bahkan juga belum sempat terlihat oleh khalayak mahasiswa apalagi khalayak umum.

Ketika semua mahasiswa sudah dalam koridor perpustakaan pastilah keintelektualannya pasti terbangun meskipun hanyak sedikit, tapi ketika diasah terus pastilah menjadi lebih baik. Ketika ilmu sudah dimiliki dan telah tersimpat di otak pastilah mengerjakan tugas tidaklah sesulit sebelum ia sadar bahwa perpustakaan itu penting, tugas yang biasanya hanya memindahkan tulisan dari buku ke makalah pasti akan memiliki keindahan dengan ditambahkannya pemikiran atau argumen-argumen penulis, selain itu ketika ia sudah terbiasa dengan perpustakaan pastilaah ia akan menjahui tugas yang hanya klik di “google” dan tinggal copy and paste. Tugas memanglah penting untuk dikerjakan, tetapi jika kita mengerjakannya dengan cara yang tak etis apakah itu termasuk dari tujuan tugas tersebut? Tidaklah begitukah. Karena sesuatu perkara ataupun i’tikad yang baik baik, tetapi dilakukan dengan cara yang tidak baik  maka itu termasuk tidak baik pula, dan agar menjadi baik semuanya tanpa ada kejelekan maka lakuknlah suatu perkara yang baik dengan cara yang baik pula.

Kalau kita ingin suatu intansi, lembaga bahkan Negara agar maju dan terus bisa berkarya dan bersaing maka seharusnya meningkatkan tingkat keintelektualannya dengan cara membaca buku, kalau memang kita tidak bisa membeli buku maka manfaatkanlah perpustakaan yang ada dimana mana janganlah kita memandang dengan pradigma negative tentang perpustakaan tapi dengan perpustakaan kita akan lebih baik dan lebih bermanfaat dan juga bisa memanfaatkan hidup, karena jika kebiasaan dan keseharian kita baik maka akan menunjukkan efek baik pula kepada kita.

Habbit atau kebiasaan setiap orang pastilah berbeda, ada yang suka dengan hidup santai, ada juga yang suka cepat selesai, ada yang suka menunda-nunda, dan sebagainya, tapi jika kitaingin berwawasan luas dan tinggi intelektualitas maka kita seharusnya jangan melupakan untuk mengunjungi perpustakaan dan juga jangan lupa untuk mengingat untuk membuka buku, dengan hal demikian maka mau tidak mau pasti kita akan membacanya.  

Selain itu ketika perpustakaan difasilitasi dengan fasilitas yang lebih keren dan lebih kekinian mungkin akan merubah maindset mahasiswa, ketika ia keluar untuk memperoleh suasa, baik suasana kafe ataupun mall, maka ketika perpustakaan difasilitasi seperti kafe dan mall tersebut akan membuat para mahasiswa kekinian untuk tertari masuk perpustakaan dan juga tertarik untuk membaca segala buku yang ada didalamnya. Karena tugas seorang Mahasiswa tak lain dan tak bukan adalah untuk mengasah kemapuan otak, kalau kita tidak mau mengunjungi perpustakaan dan juga tidak mau membaca buku maka tak pantaslah kita menyadang gelar mahasiswa itu, karena kata mahasiswa terdiri atas dua kata yaitu : maha dan siswa, berartik mahasiswa seharusnya lebih maha, atau lebih baik lagi daripada siswa, jika mahasiswa masih seperti siswa maka tidak selayaknyalah menyangdang nama itu.

Oleh  AKHSANUL MUTTAQIEN

Mahasiswa FEBI  IAIN Kediri

 

 

About author

JURNAL PERPUSTAKAAN IAIN KEDIRI

Jurnal Online IAIN Kediri Sumber informasi ilmiah dengan karakteristik mutakhir diterbutkan dalam bentuk jurnal ilmiah. Saat ini, jurnal ilmiah telah diterbitkan secara online dan dapat ...