PERSAMAAN HAK BAGI PEMUSTAKA DIFABEL;  UPAYA MEWUJUDKAN PERPUSTAKAAN RAMAH DIFABEL

Istilah difabel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  di.fa.bel atau Difabêl memiliki arti penyandang cacat. Sedangkan, kata difabel adalah serapan dari Different Ability yang berarti perbedaan kegunaan; memiliki makna perbedaan cara penggunaan anggota tubuh. Different ability kemudian dipendekkan menjadi Difable dan dalam perkembangannya menjadi difabel.

Setiap manusia memiliki kesetaraan hak dalam segala bidang kehidupan, persamaan hak ini sering disebut Hak Asasi Manusia. Kesetaraan HAM salah satunya di pertegas dalam pasal 7 hasil deklarasi universal hak asasi manusia, dalam pasal tersebut di sebutkan bahwa semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi.

Persamaan hak ini kemudian diadopsi oleh segala bidang kehidupan baik itu  kesamaan hak untuk memperoleh hidup secara terhormat, hak dalam kesetaraan gender, serta hak dalam memperoleh fasilitas umum dalam hal ini termasuk memperoleh fasilitas perpustakaan bagi difable maupun bukan.

Perpustakaan sebagai  institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka, sudah selayaknya menjadi garda terdepan dalam pemenuhan hak fasilitas dan layanan terhadap penyandang difable.

Ada 4 (empat) fasilitas perpustakaan yang memenuhi unsur ramah difabel adalah:

  1. Jalur Pemandu Khusus Difabel (Guiding Block)

Jalur Pemandu penyandang cacat digunakan  untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan. Terpenuhinya jalur pemandu ini dengan syarat. Pertama, tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukan arah perjalanan. Kedua, tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitarnya/warning. Ketiga, daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks) yaitu di depan jalur lalu lintas kendaraan, di depan pintu masuk atau keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai, di pintu masuk atau keluar perpustakaan  yang menghubungkan antara jalan dan bangunan.

  1. Fasilitas Toilet Khusus Penyandang Difabel

Toilet yang ditujukan bagi penyandang disabilitas ini harus memenuhi beberapa kaidah aksesibilitas. Pertama, ukuran ruang toilet harus lebih besar. Pintu untuk menutup toilet khusus disabilitas juga harus mudah dibuka. Pintu yang digunakan harus membuka ke arah luar agar dapat dilewati pengguna kursi roda, lebar pintu juga dibuat lebih luas dari pintu biasa, pegangan berbentuk huruf L terbalik juga perlu dipasang di kiri dan kanan toilet duduk, dan tinggi toilet duduk juga dibuat lebih tinggi dari ukuran toilet duduk biasa. Demi mempermudah penyandang disabilitas untuk berpindah dari kursi roda mereka ke toilet.

  1. Perpustakaan Ramah Tuna Netra

Perpustakaan ramah tuna netra bisa dimulai dengan koleksi buku dengan huruf  braille, huruf braille adalah sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh tunanetra. Tidak cuma huruf, braille juga meliputi simbol-simbol untuk mempresentasikan tanda baca, karakter matematika dan ilmiah, notasi musik, komputer, serta bahasa asing.

Huruf braille dibentuk dari unit braille yang disebut sel braille. Sebuah sel braille yang penuh terdiri dari enam titik timbul yang disusun dalam dua kolom vertikal berisi tiga titik. Kurang lebih mirip dengan gambaran angka enam dalam sebuah dadu.

Menjadi tuna netra, bukan berarti tidak paham atau update informasi terbaru. Tentunya, orang-orang spesial ini memiliki hak yang sama untuk belajar dan mendapatkan informasi. Peran huruf braille ini sebenarnya menjadi jembatan mereka untuk mendapatkan haknya tersebut.

Dengan adanya koleksi buka huruf braille, seorang yang tuna netra dapat membaca karya literasi yang diinginkan. Bahkan, bisa mendapatkan pengajaran yang normal. Ini karena huruf spesial tersebut berperan sebagai mata atau penglihatan

  1. Lift Khusus Difable.

Dalam membangun lift khusus difable harus mempunyai railling untuk mencegah kemungkinan terburuk, misalnya kursi roda terpeleset dan jatuh karena tidak dapat dikendalikan. Begitu juga dengan tombol lift yang mudah dijangkau oleh penyadang disabilitas yang menggunakan kursi roda. Serta pintu lift yang lebar untuk memungkinkan kursi roda masuk tanpa terkendala ukuran pintu.

Pertanyaanya adalah, apakah Perpustakaan IAIN Kediri telah memenuhi unsur perpustakaan ramah difable? Jika dilihat dari 4 (empat) kriteria di atas maka dapat disimpulkan: Pertama, dalam hal jalur pemandu dan tangga memasuki perpustakaan bisa digunakan kursi roda. Kedua, dalam hal fasilitas toilet seluruh toilet perpustakaan IAIN Kediri sudah menggunakan toilet duduk dan berukuran besar. Ketiga, terkait ketersediaan buku dengan huruf braille, Perpustakaan IAIN Kediri memiliki koleksi buku dengan huruf braille serta tempat duduk khusus tuna netra. Keempat, dalam hal fasilitas ketersediaan lift khusus penyandang difable, Perpustakaan IAIN Kediri menyediakan lift khusus dengan ukuran besar yang memungkinkan kursi roda bisa masuk. Dari empat kriteria sebuah perpustakaan bisa memenuhi unsur ramah difable, maka Perpustakan IAIN Kediri telah memenuhi keempat kriteria tersebut.

Oleh: Al Mas’udah

Penggiat Rumah Jurnal IAIN Kediri

About author