PERPUSTAKAANKU DIHATIKU

Perpustakaan mengapa dikatakan sebagai lumbung literasi? Banyak informasi dan ilmu pengetahun yang didapat karena ribuan teori-teori yang terkutip dalam setiap tulisan. Namun, selain teori-teori yang termuat dalam bentuk tulisan tersebut sebagai mahasiswa harus mampu mengkritisi teori-teori tersebut dan memberikan teori baru dengan berbagai penelitian-penelitian secara empirik. Berbagai pendekatan kuantitatif ataupun kualitatif  dalam melakukan penelitian pastinya juga memerlukan telaah kepustakaan, dengan berbagai sumber data primer maupun sekunder yang ada di perpustakaan. Perpustakaan memfasilitasi kebutuhan bagi mereka yang haus literasi.

Peminat pepustakan yang kian lama merosot perlu di cermati. Bilamana pelajar maupun mahasiswa yang mendayagunakan perpustakaan hanya sebagai suatu kewajiban untuk memenuhi tugas saja. Apabila tugas yang diberikan telah selesai maka bisa dipastikan tingkat pengunjung perpustakaan menjadi berkurang. Banyak diantara pengunjung perpustakaan mengatakan bahwa tingkat kejenuhan pengunjung sangat tinggi. Mengapa demikian? Rak-rak bersusun yang berisikan buku-buku, suasana hening untuk menciptakan ketenangan bagi pengunjung lain, pegawai yang mengontrol, mengawasi, dan memenjadikan perpustakaan seperti tempat keramat bagi pengunjung yang kurang menyukai bangunan perpustakaan. Selebihnya mereka beranggapan bahwa perpustakaan identik dengan tempat keramat.

Berbagai usaha dilakukan oleh para pihak perpustakaan untuk meningkatkan keeksistensiannya dan menghapus opinin-opini miring mengenai esensi dari perpustakaan itu sendiri. Dimulai dari meningkatkan kinerja para pegawai dalam hal pelayanan, mengoptimalisasikan sarana dan prasarana perpustakaan, sampai-sampai inovasi adanya perpustakaan keliling/bergerak. Perpustakaan keliling/bergerak ini yang fungsinya juga sama yaitu selain sebagai santapan literasi bagi pecinta perpustakaan di luar sana, juga  sebagai penghilang kejenuhan mengenai opini bangunan perpustakaan yang beromansa kaku.

Mudahnya akses dalam peminjaman dengan menerapkan layanan sistem booking book. Melakukan peminjaman buku seperti yang kita ketahui ialah masih melakukan peminjaman dengan cara kuno. Mengapa demikian? Ribet sekali bukan kalau kita harus pergi ke perpustakaan bilamana tujuan kita hanya untuk meminjam buku? Dan yang hasil terakhir yang paling mengecewakan adalah saat sudah menghabiskan waktu di perpustakaan, eh.. buku yang kita cari tidak tersedia di perpustakaan.

Memperkaya e-book yang dapat diakses dan dilakukan sembari berbaring. Terlihat santai tetapi berbobot bukan? Banyaknya buku yang tersedia baik itu buku cetak ataupun buku dalam bentuk file dapat menjadi permasalahan mengenai adanya perpustakaan tersebut. Asumsi calon pengunjung mengenai perpustakaan mampu mengcover sumber-sumber pengtahuan menjadi terkonstruk untuk meninggalkan perpustakaan tersebut dan mencari perpustakaan yang lebih lengkap.

Pengadaan interior yang menunjang untuk memperindah perpustakaan. Pendistribusian ruangan-ruangan khusus bagi para pengunjung. Seperti ruangan tertutup dengan tata letaknya, ruangan terbuka beserta letaknya, ruangan berhias dengan interior penghilang penat. Ruangan tertutup untuk meningkatkan konsentrasi si pembaca agar tidak terpengaruh oleh bisingnya suara pengunjung lain. Ruangan terbuka adalah ruangan yang luas dan cocok digunakan sebagai forum diskusi kemudahan dalam menerima dan menyampaikan pendapat personal kepada timnya lebih terarah. Ruangan berhias, pada ruangan ini memang perlu banyak biaya yang dikeluarkan. Namun, dengan adanya ruangan ini mampu merefresh otak bagi pengunjung yang ingin membaca cerpen, maupun novel sangat cocok menempati dan menikmati fasilitas ruangan berhias.

Kiat-kiat diatas dapat menjadikan motivasi perpustakaan untuk tetap menjaga keeksistensiannya. Ditambah poin utama yaitu memberdayakan pegawai perpustakaan dengan penerapan pelayanan prima bagi semua pengunjung

Oleh Rany Silvia Pebrian

Mahasiswa Ekonomi Syari’ah IAIN Kediri

About author