Asyiknya Perpustakaan Zaman Now Jika…

Perpustakaan. Mungkin ketika kata tersebut diperdengarkan, yang ada di benak kita adalah sebuah tempat dengan beberapa lemari yang penuh dengan berbagai macam buku. Ingin mencari buku tentang Pendidikan? Ada. Ingin mencari buku tentang psikologi? Ada. Ingin mencari buku tentang perjodohanpun ada. Pokoknya apapun yang ingin kita ketahui tentang segala sesuatu di dunia ini seolah-olah dapat kita cari tahu hanya dengan berkunjung ke perpustakaan, lalu duduk manis di sana sembari membaca beberapa buku yang mampu menjawab rasa keingin tahuan kita. Maka tidaklah salah kalau perpustakaan dikatakan sebagai surga bagi orang-orang yang haus akan ilmu dan penuh rasa ingin tahu.

Selain itu, orang yang sering berkunjung ke perpustakaanpun seringkali digambarkan di film-film televisi sebagai sosok seorang yang culun, lengkap dengan kaca matanya yang tebal. Bahkan orang tersebut seringkali dijuluki sebagai kutu buku di lingkungannya dan dinilai sebagai orang yang gak gaul atau kudet (kurang up date).

Tapi itu adalah tempo zaman doeloe. Zaman saya masih SD atau sekitar tahun 2006-an, penilaian mengenai perpustakaan yang pengunjungnya adalah orang-orang yang memang ingin membaca atau meminjam buku itu masih berlaku. Tapi sekarang, penilaian itu perlahan semakin pudar. Pengunjung perpustakaan zaman now atau zaman sekarang, sedikit sekali yang memiliki niat atau keinginan membaca apalagi meminjam buku, melainkan hanya untuk menikmati layanan perpustakaan yang disediakan di sana, yaitu free wifi.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan IT yang begitu pesat dapat memberikan dampak yang luar biasa khususnya bagi Indonesia itu sendiri. Salah satu dampak yang paling dapat kita rasakan selain kehadiran gadget yang semakin canggih, juga salah satunya adalah wifi yang semakin tersebar dimanapun, bahkan di warung pinggir jalan sekalipun. Wifi menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang yang ingin membuka usaha untuk menarik banyak pelanggan. Begitu juga dengan perpustakaan, dimana pihak pengelola perpustakaan memilih untuk memberikan layanan free wifi untuk dijadikan sebagai daya tarik pengunjung. Salah satu perpustakaan yang memberikan layanan free wifi adalah perpustakaan kota Kediri.

Perpustakaan kota Kediri yang beralamatkan di Jalan Diponegoro Gang Bantu, Balowerti, Pocanan, Kecamatan Kota Kediri, Kota Kediri, dirasa benar-benar membuat nyaman para pengunjung perpustakaan itu sendiri. Bagaimana tidak, selain memiliki layanan free wifi, perpustakaan kota Kediri juga menyediakan bangku dan kursi yang nyaman dan dalam jumlah yang cukup banyak di halaman perpustakaan yang terletak tepat di samping perpustakaan, lengkap dengan beberapa stopkontak yang ditempelkan pada kaki meja yang dapat digunakan ketika hp atau laptop pengunjung mulai kehabisan batrai. Selain itu, di perpustakaan kota Kediri juga dilengkapi dengan sebuah kantin yang dinamakan kantin Pintar yang menyediakan berbagai makanan (seperti mie rebus dan tahu petis) dan minuman (seperti air putih, aneka jus, kopi) bagi para pengunjung perpustakaan. Tempat parkir pun dirasa cukup untuk menampung kendaraan para pengunjung.

Kenyaman dan kelengkapan yang disediakan oleh perpustakaan kota Kediri ternyata cukup berhasil untuk menarik banyak pengunjung. Mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan para tukang go-jek pun sepertinya menjadikan halaman perpustakaan kota itu sebagai pangkalan mereka. Yang pengunjung lakukan di perpustakaan kota pun berbagai macam, ada yang mengerjakan tugas, download video atau game, buka lapak online, nyuapin anak makan, atau sekedar numpang tidur karena suasan halaman perpustakaan yang memang terbuka sehingga menciptakan semilir angin.

Hanya dengan memasang free wifi, dengan sekejap perpustakaan kota Kediri menjadi tempat nongkrong yang asyik bagi para pengunjung. Bahkan layanan free wifi tersebut  tak pernah membuat perpustakaan kota Kediri sepi pengunjung, saya pun hampir setiap tiga hari dalam seminggu berkunjung ke sana hanya untuk berburu wifi. Apalagi selama saya ke sana, hanya sekali wifinya lelet.

Namun, sangat disayangkan dengan hadirnya fasilitas free wifi tersebut justru hanya meningkatkan kuantitas pengunjung bukan meningkatkan kualitas pengunjung. Maksudnya, hampir semua pengunjung datang ke perpustakaan dengan tujuan untuk berburu wifi bukan untuk membaca buku yang telah disediakan oleh perpustakaan. Saya mengamati hanya ada satu orang dari sekian banyak pengunjung yang membaca buku di halaman perpustakaan. Saya pun mengamati pengunjung yang membaca buku di perpustakaan jumlahnya tidak lebih banyak dibanding dengan pengunjung yang mencari wifi. Bahkan anak-anak yang tampaknya masih duduk di bangku SD pun datang ke perpustakaan untuk mencari wifi lengkap dengan gadget canggih di tangannya. Buku-buku di perpustakaanpun seolah-seolah bukanlah suatu yang menarik bagi para pengunjung. Para pengunjung lebih tertarik dengan layanan free wifi dibandingkan dengan free book.

Lalu bagaimana cara untuk meningkatkan minat baca pengunjung? Pernah dengar “gratis bensin satu liter untuk setiap membaca al-Qur’an satu juz di tempat”? Reward. Ya, reward. Nah, sepertinya reward yang seperti itu juga bisa diterapkan di perpustakaan mana pun yang merasakan rendahnya minat baca di lingkungan sekitarnya atau yang pengunjungnya lebih tertarik dengan free wifi dibanding dengan free book. Misalnya dapat diadakan reward “gratis satu mangkok bubur kacang hijau + roti untuk setiap pembaca  yang membaca satu buku di tempat.” Apalagi konon katanya negeri kita itu negeri perbadokan, baca ayat kursi 100 kali tidak masalah asalkan pulang dapat sekotak nasi dan ayam goreng lengkap dengan lalapan. Dengan adanya reward seperti itu, saya yakin setidaknya ada 10 pengunjung yang datang perharinya untuk mendapatkan reward tersebut. Saya sendiri telah mengadakan voting dengan menuliskan status di WhatsApp yang bertuliskan,

“Seandainya ada perpustakaan yang memberikan reward gratis satu buku best seller bagi pengunjung yang membaca satu buku di tempat atau gratis satu mangkok bubur kacang hijau + roti untuk pengunjung yang membaca satu buku di tempat, ada yang tertarik kah?”

Dan ternyata banyak dari mereka yang membaca status saya mengatakan bahwa mereka tertarik dengan reward tersebut. Bahkan saya juga sendiri tertarik. Dengan adanya reward seperti itu, selain dapat meningkatkan minat baca masyarakat juga dapat meningkatkan gizi di masyarakat, karena yang dibagikan adalah makanan yang bergizi seperti bubur kacang hijau dan roti. Jadi seperti sekali dayung, dua pulau terlampaui.

Supaya pengunjung tidak bosan, bolehlah dibuat menu yang berbeda setiap harinya. Missal hari Senin bubur kacang hijau, Selasa kolak, Rabu bubur sumsum, Kamis bubur merah putih, Jumat bubur ayam, Sabtu bubur kacang hijau lagi, Minggu kolak lagi, dan seterusnya. Jika dirasa terlalu menghabiskan banyak dana apabila reward diadakan setiap hari, maka dapat diadakan minimal satu atau dua kali dalam seminggu. Apabila perpustakaan memiliki halaman di luar, bisa dimanfaatkan bagi para pengunjung untuk memakan bubur kacang hijau di sana karena seperti pada umumnya terdapat peraturan dilarang makan dan minum di dalam perpustakaan. Itu juga dapat membuat orang-orang yang sekedar lewat tergiur untuk mengikuti program reward dari pihak perpusatakaan.

Waduh, kalau seperti itu akan mengocek dana yang sangat banyak, dapat darimana nanti dananya? Insyaallah masalah dana saya yakin akan banyak sekali lembaga atau yayasan yang membantu bahkan dari pemkot sekalipun. Karena banyak masyarakat kita yang menyadari tentang rendahnya minat baca di Indonesia dan saya yakin banyak dari kita yang ingin ikut turut andil dalam meningkatkan minat baca di Indonesia khususnya di Kediri.

Lanjut ya, lalu supaya banyak masyarakat yang mengetahui tentang program perpustakaan dalam memberikan reward setiap minggu atau setiap harinya, pihak perpustakaan dapat memasang pamflet, menyebarkan info melalui broadcasting di WhatsApp, memasang info di Instagram atau facebook. Selain itu, para pengunjung yang telah mendapatkan reward tersebut dapat diminta untuk memanfaatan free wifi yang disediakan oleh perpustakaan untuk :

  1. Follow akun Instagram perpustakaan atau menyukai fanspage facebook perpustakaan
  2. Membagikan foto beserta reward dari perpustakaan dan jangan lupa untuk mentag foto minimal tiga orang termasuk akun perpustakaan.
  3. Tulis caption foto tentang pesan kesan ketika berkunjung ke perpustakaan dan sertakan hastag (misal #perpustakaankediri)

Sebab setiap sebulan sekali, pihak perpustakaan akan membagikan dua buah hadiah menarik bagi dua orang beruntung yang memiliki caption menarik.Untuk menciptakan suasana tempat yang menarik untuk mengambil foto, pihak perpustakaan bisa mempercantik perpustakaan mereka, tidak perlu yang benar-benar ‘wow’ tapi menarik. Menarik yang seperti apa? Misalnya, pihak perpustakaan bisa menyediakan sebuah ruangan khusus untuk foto, tidak harus luas, dimana di sana terdapat sebuah buku layaknya meja belajar dengan tumpukan beberapa buku bacaan dengan cover warna warni, di belakangnya dapat ditempeli beberapa kata yang berhubungan dengan buku maupun perpustakaan, lalu tidak jauh dari meja terdapat lemari pintu kaca berukuran sedang yang berisi deretan buku, jangan lupa sediakan beberapa kata menarik yang dibuat seperti spanduk kecil yang saat ini lagi hits (misal : siap dilamar) tapi karena ini berhubungan dengan perpustakaan jadi diganti ya ‘siap dilamar’nya dengan ‘pembaca cerdas’, ‘pecinta buku’, dan lain-lain. Kenapa hal ini dianjurkan untuk dilakukan? Karena zaman sekarang banyak para remaja yang rela jauh-jauh pergi ke suatu tempat untuk hanya sekedar mengambil foto. Bahkan sudah banyak pengusaha kuliner termasuk di Kediri sendiri yang mempercantik kafenya supaya dapat menarik pengunjung, contohnya seperti di Bakso Pak Kumis. Nah sampai sini sudah kebayang belum gimana serunya pengunjung saat berkunjung ke perpustakaan?

Selain itu, pihak perpustakaan juga bisa mengadakan nongkrong bareng suatu komunitas setiap 3 atau 6 bulan sekali. Hal ini juga akan menjadi daya tarik tersendiri untuk beberapa komunitas (misal komunitas menulis) di Kediri untuk memperkenalkan komunitasnya supaya banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan mereka, selain itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung khususnya para remaja yang pada masanya ingin mencari jati diri mereka dengan mencari tahu beberapa komunitas di lingkungannya dan ikut serta di dalamnya. Atau bahkan perpusatakaan itu sendiri dapat membuat suatu komunitas sendiri seperti komunitas pecinta perpustakaan atau lain-lain lalu kemudian memperkenankan komunitasnya kepada para pengunjung. Dalam hal ini pihak perpustakaan pun turut andil dalam memberikan info komunitas yang baik untuk para remaja supaya mereka tidak masuk ke dalam komunitas yang salah.

Bisa juga pihak perpustakaan memberikan hadiah bagi pengunjung aktif. Aktif di sini diartikan bahwa ia sering mengunjungi perpustakaan. Pembagian hadiah untuk pengunjung aktif ini dapat dilakukan selama sebulan atau tiga bulan sekali. Untuk pengumuman pemenang dapat dipasang di perpustakaan itu sendiri, diupload ke Instagram ataupun facebook dan mengirim pesan pribadi bagi pemenang.

Bila beberapa hal yang saya anjurkan dan sudah saya jabarkan di atas benar-benar diterapkan di suatu perpustakaan, saya yakin seyakin-yakinnya pengunjung perpustakaan akan meningkat secara kuantitas juga kualitas. Tidak ada lagi mereka yang ke perpustakaan hanya sekedar untuk wifi-an tanpa membaca buku, apalagi hanya untuk numpang tidur. Deretan buku di perpustakaan pun tidak akan terbengkalai.

Tapi kalau ternyata memang tidak ada perubahan, sungguh sangat terlalu karena hal yang saya jabarkan di atas menurut saya sudah sangat sesuai dengan kondisi anak zaman sekarang. Pertama, anak zaman sekarang suka yang gratisan. Disediakan reward bubur gratis oleh perpustakaan, beres. Kedua, anak zaman sekarang suka hunting tempat menarik untuk foto. Disediakan tempat foto yang menarik bagi mereka yang suka hunting foto, beres. Ketiga, anak zaman sekarang suka main media sosial. Disediakan free wifi dan hadiah bagi pengunjung yang mengupload foto di media sosial dan disertai caption menarik, beres. Lalu apa lagi yang kurang? Kalaupun masih terdapat kekurangan dari perpustakaan, pihak perpustakaan dapat menambahkan kotak saran bagi para pengunjung, atau para pengunjung dipersilahkan untuk memberikan masukan melalui online atau WhatsApp.

Memang, ilmu itu adalah kebutuhan masing-masing individu. Kita tidak perlu susah-susah menyuruh orang lain untuk membaca, mencari ilmu dan lain-lain. Tapi negara dan bangsa  kita membutuhkan generasi yang berilmu bukan generasi yang bodoh untuk meningkatkan kesejahteraan warga negara ini. Jadi, sudah seharusnya kita mendukung atau turut berpartisipasi dalam mencerdaskan Indonesia, salah satunya adalah dengan meningkatkan minat baca pada diri kita sendiri dan juga pada diri orang lain.

Oleh Humaira Za’ima Sufiya

Mahasiswa Psikologi Islam IAIN Kediri

About author

VIRTUAL LIBRARY

Virtual Library Dengan semakin berkembanganya teknologi, saat ini koleksi tercetak sudah banyak yang dialihbentukkan dalam bentuk digital. Di antara koleksi yang dialihbentukkan itu adalah hadis, ...