Mengenal Australian and New Zealand Standard Research Classification (ANZSRC)

Sebagai pengelola perpustakaan, mungkin nama ANZSRC masih sangat belum familier di telinga kita. Hal ini disebabkan karena masih belum banyaknya yang mengunakan klasifikasi ini dan kekhususannya dalam pengklasifikasian. Seperti yang kita ketahui bahwa koleksi-koleksi yang kita miliki di kelompokkan berdasarkan subyek pembahasanya yang lebih dikenal dengan nama tajuk subyek. Tujuan pembuatan tajuk subyek ini adalah untuk memudahkan proses temu kembali koleksi perpustakaan dan sekaligus menyedarhanakan nama subyek yang terlalu panjang kedalam kode unik tertentu.

Beberapa tajuk subyek yang selama ini kita kenal diantaranya adalah LCC (Library Of Congress Classification), Universal Decimal Classification (UDC), Dewey Decimal Classification (DDC) dan lain sebagainya. LCC merupakan sistem pengklasifikasian yang dibuat untuk mengakomodir kebutuhan perpustakaan “Kongres Amerika” yang memiliki koleksi sangat banyak dan menganggap klasifikasi yang sudah ada belum sesuai dengan kebutuhan mereka. LCC mengkodekan subyek menggunakan kode huruf sebagai identifikasi subyek koleksi. Misalkan saja huruf “A” mewakili Bidang Umum, “B” untuk Filsafat, Psikologi dan Agama, “BC” untuk Logika, “BD” untuk filsafat spekulatif dan lain sebagainya.

UDC (Universal Decimal Classification) merupakan sistek klasifikasi yang disusun oleh BSI (Britis Standart Instituion) dengan cara menyederhanakan dan sekaligus memperluas klasifikasi DDC. UDC menggunakan satu angka saja untuk mewakili subyek utama tanpa tambahan angka nol (0) seperti DDC. Seperti angka “1” untuk Filsafat matematika, Psikologi, logika, Etika. Angka “2” untuk subyek agama dan teologi dan seterusnya. Sedangkan untuk devisi dan subdevisinya digunakan angka tambahan dibelakangnya. UDC mempunyai beberapa keunggulan lainnya seperti kemampuan menghubungkan subyek yang berbeda. Perluasan subyek di UDC digunakan indikator faset atau simbol yang menandai komponen kelas. Misalkan saja tanda “+” untuk menggabungkan 2 subyek, tanda “/” untuk menkombinasikan 2 angka atau lebih yang berurutan, tanda “:” yang menunjukkan hubungan antara 2 subyek, tanda “=” untuk bahasa dan lain sebagainya.

Sistem klasifikasi yang banyak digunakan di perpustakaan Indonesia adalah Dewey Decimal Classification (DDC) yang disusun oleh Melvil Dewey (1873). DDC mewakili subyek ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis dan teratur. Pengelompokan subyek pengetahuan diawali dari subyek utama yang masing-masing dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil menjadi suatu urutan yang logis dan biasanya dimulai dari yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Dengan demikian, DDC terdiri atas kelas utama, devisi, seleksi, dan subselekesi yang dirinci secara detail. Sistem klasifikasi ini sering juga disebut dengan klasifikasi decimal/persepuluhan karena perincian ilmu pengetahuan didalamnya berdasarkan kelipatan sepuluh. Subyek utama dibagi dalam 10 (sepuluh) subyek utama dan kemudian dari 10 subyek utama ini masing-masing dibagi kedalam 10 (sepuluh) devisi. Dari 10 (sepuluh) devisi ini dapat dibagi lagi dalam 10 (sepuluh) subdevisi dan seterusnya. Sepuluh devisi utama DDC ini adalah notasi “000” untuk Karya Umum, “100” untuk filsafat, “200” untuk subyek agama, “300” untuk Ilmu Sosial, “400” untuk subyek Bahasa, “500” untuk Ilmu murni, “600” subyek ilmu trapan, “700” untuk subyek Seni dan Olahraga, “800” untuk Kesusastraan, dan “900” untuk Sejarah dan Geografi.

Perpustakaan di IAIN Kediri juga menggunakan klasifikasi DDC untuk pengelolaan subyek bahan pustakanya. Sedangkan untuk pengelolaan subyek koleksi karya ilmiahnya menggunakan Australian and New Zealand Standard Research Classification (ANZSRC). ANZSRC dikembangkan oleh Australian Bureau of Statistics (ABS) dengan tujuan untuk mengklasifikasikan kegiatan dan hasil-hasil riset yang dilakukan oleh lembaga riset dan perguruan tinggi yang ada di Australia dan New Zealand. Pemilihan ANZSRC ini didasarkan pada kemudahan dan kesederhanaan klasifikasi subyeknya. Selain itu, ANZSRC mudah dikembangkan dan diperinci lagi dengan memberi susunan hirarki yang konsisten dengan menambahkan dua digit pada kode angka terakhir. Walaupun masih banyak subyek yang belum terakomodir oleh ANZSR ini (terutama subyek keagamaan Islam), namun dengan adanya kemudahan penambahan subyek ini memungkinkan pengelola untuk mengembangkan subyek yang sesuai dengan institusinya masing-masing.

ANZSRC membagi tipe riset menjadi 4 (empat) bagian yaitu penelitian murni, Riset dasar strategis, Riset terapan, dan Pengembangan riset. Sedangkan bidang penelitiannya dibagi menjadi 22 devisi yaitu :

01 Mathematical Sciences

02 Physical Sciences

03 Chemical Sciences

04 Earth Sciences

05 Environmental Sciences

06 Biological Sciences

07 Agricultural and Veterinary Sciences

08 Information and Computing Sciences

09 Engineering

10 Technology

11 Medical and Health Sciences

12 Built Environment and Design

13 Education

14 Economics

15 Commerce, Management, Tourism and Services

16 Studies in Human Society

17 Psychology and Cognitive Sciences

18 Law and Legal Studies

19 Studies in Creative Arts and Writing

20 Language, Communication and Culture

21 History and Archaeology

22 Philosophy and Religious Studies

Setiap devisi yang tersebut dijabarkan lagi kedalam sub-subdevisi yang diistilahkan sebagai grup devisi dengan menambahkan 2 (dua) digit angka di belakangnya. Misalkan saja untuk devisi “01 Mathematical Sciences” mempunyai sub devisi “01” untuk grup devisi “Pure Mathematics”. Jadi untuk pengkodean “Pure Mathematics” dikodekan dengan angka “0101”. Untuk grup “Pure Mathematics” dijabarkan lagi dalam sub grup riset, misalkan saja untuk sub-grup “Algebraic and Differential Geometry” dikodekan dengan angka “02”. Maka untuk pengkodean subyek riset “Algebraic and Differential Geometry” dituliskan dengan kode angka “010102” dan begitu seterusnya. Jika ingin mengembangkan subyek sesuai dengan karakteristik bidang ilmu, bisa di kembangkan dari devisi yang ada dari 22 devisi yang dimiliki oleh ANZSRC. Dan dari grup bidang ilmu bisa dikembangkan lagi kedalam subyek-subyek berdasarkan hirarki yang ditentukan oleh ANZSRC.

Australian and New Zealand Standard Research Classification (ANZSRC) merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk pengelolaan subyek riset. ANZSRC juga dapat dengan mudah diintegrasikan dengan software repository eprints. Di repository dan skripsi online IAIN Kediri juga menggunakan ANZSRC untuk mengelola sunyek koleksi riset dan karya ilmiah yang dimiliki dan sejauh ini sudah dapat memenuhi kebutuhan pengelolaan subyek karya ilmiah IAIN Kediri.

 

By Muhamad Hamim

About author

LAYANAN REFERENSI

Layanan referensi adalah layanan untuk menjawab informasi khusus yang bisa dirujuk pada koleksi referensi (kamus, ensiklopedi, indeks dll). Di samping itu perpustakaan IAIN Kediri juga ...