Isi Perut Bertambah Pengetahuanpun Bertambah

Perpustakaan merupakan tempat yang strategis untuk mencari ilmu selain ruang kelas dan juga sekolahan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Di perpustakaan sendiri banyak sekali aktifitas yang dapat dilakukan. Entah itu dilakukan oleh pegawai perpustakaan, para siswa atau mahasiswa, dosen ataupun guru, Dan masih banyak lagi yang mengunjungi perpustakaan. Kegiatan merekapun bermacam-macam ada yang hanya sekedar mencari wifi, mencari referensi, membaca, mengerjakan tugas, dan kegiatan-kegiatan yang lainnya.

Perpustakaan yang ideal atau yang di inginkan adalah perpustakaan yang nyaman, bersih, bisa bersantai sambil menikmati apa yang kita kerjakan. Mudah dijangkau dari berbagai aspek, misalnya dari transportasi, sarana, fasilitas, pengelolaan dan yang lainnya. Namun sekarang ini di beberapa perpustakaan memberlakukan beberapa peraturan semisal dilarang makan di dalam perpustakaan, dilarang ini, dilarang itu namun sarana yang diberikan kurang memadai. Sekarang ini banyak sekali masalah-masalah yang membuat seseorang malas berkunjung ke perpustakaan. Berkunjung sebentar saja malas apalagi belama-lamaan. Dalam hal sarana misalnya, Jangankan AC. Kipas ingin saja masih kekurangan, membuat udara yang panas tambah panas karena berdempet-dempetan dangan pengunjung lain yang terhimpit diantara rak-rak buku yang tinggi. Apalagi ditambah dengan beberapa pengunjung yang membaca buku tidak di meja tempat membaca buku melainkan di sekeliling rak yang membuat jalan yang sempit itu jadi penuh dan sesak.

Kerancuan juga terjadi pada saat mencari buku tertentu, pas dicari di katalog komputer ada, dan nomor panggilnyapun tertera dengan jelas, masih tersedia, tidak ada yang meminjamnya namun permasalahannya muncul, saat pencarian di rak. Sudah di cari dari ujung hingga ujung, dari rak bawah hingga rak atas tidak ditemukan keberadaan buku tersebut, entah itu terselip ke bagian rak lain atau bagaimana juga belum diketahui.

Di kebanyakan perpustakaan luamayan sulit untuk mencari kebutuhan pokok yang  semisal makanan, entah yang berat maupun yang ringan. Mungkin benar di sekitar perpustakaan ada beberapa penjual makanan, pertanyaannya dimana tempat kita mencari buku, apakah di laintai satu atau lebih atas lagi?. Masih mending kalau buku referensi yang kita cari ada di lantai satu, langsung keluar beli makanan, tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah ketika referensi yang kita cari ada di lantai  dua, tiga, atau empat, dan bahkan lebih atas lagi. Jika ada eskalator pasti tidak jadi persoalan, namun jika tidak ada Pasti akan merasa malas untuk turun kebawah jika kegiatan kita belum selesai. Juga di perlukan tenaga yang esktra untuk menuruni anak tangga hanya sekedar mencari makan siang. Selain masalah yang lumayan sulit untuk mencari makan. Ada juga masalah tempat ibadah yang tidak tersedia di sekitar perpustakaan. Jika perpustakaan milik lembaga pendidikan kebanyakan disekitarnya ada tempat ibadah yang sesuai dengan lembaga pendidikan tersebut. Namun jika di perpustakaan milik umum, mencarinya memang membutuhkan tenaga yang agak berlebih aliyas lumayan sulit. Karena kita harus mencari dan menelusuri jalan sekitar perpustakaan ada atau tidak, jika tidak ya terpaksa pergi ke tempat yang sedikit jauh sampai menemukan temat ibadah.

Nah dari berbagai permasalahan yang ada itu pemerintah membuat sebuah konsep unik untuk perpustakaan, yaitu konsep perpustakaan yang bentuknya menyerupai kafe. Di sana mengadopsi konsep kafe serti pada umunya, ynag juga menyediakan berbagai makanan dan berrbagai minuman yang sangat menggoda selera, layaknya kafe kebanyakan. Yang membedakan adalah disana terdapat juga berbagai macam buku. Membaca buku dengan menyantap hidangan tersedia bagaikan sambil menyelam minum air. Selain perut yang kenyang terisi dengan makanan dan minuman yang nikmat kita juga dapat mengambil ilmu dari buku-buku yang telah kita baca.

Waktu siang hari paling nikmat minum sesuatu yang dingin-dingin dengan camilan ringan sambil membaca buku cerita adalah salah satu kegiatan yang mneynagkan . Di tambah mendengarkan musik yang melankolis, yang senada dan nampak cocok dengan jalan cerita yang menyedihkan karena patah hati misalnya.  Rasa dan suasana yang tergambar dari novel tersebut seakan-akan benar-benar dirasakan.

Banyak buku-buku yang tersedia dari mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di kafe tersebut juga tersedia kursi-kursi dengan meja yang tertata dengan cantik sehingga membuat para pengunjung merasa betah berlama-lama disana. Perpustakaan ini juga dilengkapi dengan jaringan internet, yeng memudahkan para pengunjungnya untuk mencari apa yang dibutuhkan mereka. Di beberapa unit perpustakaan yeng mengadopsi konsep semacam ini sudah dilengkapi dengan tempat ibadah yang memadai semisal masjid. Sehingga pengunjung tidah perlu bersusah payah mencari keberadaan tempat ibadah.

Kehadiran perpustakaan dengan konsep kafe merupakan trobosan untuk menciptakan suasana yang baru untuk menjaring pembaca lebih banyak lagi. Menurut penelitian, anak-anak muda banyak mengahabiskan waktu mereka untuk pergi ke tempat sejenis resto. Maka dari itu perpustakaan dapat memanfaatkan kegemaran para anak-anak muda, dengan mengembangkan perpustakaan kafe sehingga berpeluang besar untuk meningkatkan jumlah pengunjungnya. Perpustakaan jenis ini dapat juga mengubah pandangan orang bahwa perpustakaan merupaka tempat yang membosankan, panas, dan kurang di sukai oleh kebanyakan masyarakat, sekarang menjadi mnyenangkan dan bahkan mulai diminati (Masiani, 2016).

Kafe seperti ini sudah terdapat di beberapa kota di Indonesia. Seperti misalnya saja di ibu kota Jakarta. Namun tak usah jauh-jauh ke Jakarta karena di Surabaya sudah ada, bahkan di kediripun juga sudah hadir konsep perpustakaan yang demikian.

Di perpustakaan yang berada di Surabaya ini buku koleksinya di kelompokkan antara area buku-buku koleksi khusus, misalnya buku teknik yang membutuhkan konsentrasi yang lebih dan waktu yang lebih dan biasanya harganya juga termasuk lebih mahal dibandingkan dengan buku yang lain, dengan area buku-buku koleksi umum yaitu buku yang mudah didapat, bersifat santai dan menghibur, tidak memerlukan waktu dan konsentrasi yang lebih, dan juga harganya lumayan terjangkau atau terbilang murah. Lingkup perbandingan antara koleksi khusus dan umum adalah 70:30. Mengenai areanya terbagi menjadi 2 bagian yaitu area yang bebas untuk melakukan berbagai kegiatan, misalnya makan, minum, berbincang santai dan lainnya. Dan yang satunya adalah area khusus yang mengharuskan pengunjungnya tenang, dimana area ini memiliki batasan-batasan, seperti tidak boleh gaduh, ramai dan lainnya yang dapat mengganggu pengunjung lain. Di area belakang terdapat dapur yang umumnya adalah tempat mengolah makanan, lalu ada tempat penerimaan bahan makanan, tempat mencuci peralatan yang kotor, tempat menyimpan peralatan umum, dan yang terakhir kantor bagi owner. Tentu saja para pegawai atau staffnya juga mendapatkan pelatihan khusus agar memahami langkah-langkah apa yang harus mereka lakukan. Dari segi bangku atau mejanya, ada meja yang diperuntukan bagi satu orang saja dengan ukuran 60 kali 60 cm. Diarea lain juga tersedia meja dengan kapasitas 6-8 orang. Di salah satu bagian area ada yang namanya workrooms yang di lengkapi dengan fasilitas fotokopi, printer, tempat sampah, loker, brankas, dan rak jaket. Pada fasilitas makan, kamar mandi pengunjung dan kamar mandi karyawan dibedakan. Ukuran kapasitas kamar mandi tergantung dengan jumlah kapasitas tempat duduk pada area makan. Pada lantai pertama, tersedia area lesehan dapat menciptakan susasan yang santai, yang dapat kita gunakan untuk sekedar berbincang, kerja kelompok, belajar yang berbagai aktivitas lainnya (Karjodihadjo, 2015).

Di Kediri dibukanya kafe pintar bertujuan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Seperti kata kepala kantor perpustakaan, arsip,dan dokumentasi kota kediri Tri Krisminarko “ kami sudah mengajukan ke APBD sekitar Rp 35 juta untuk pembuatan kafe itu”. Bukunya juga akan ditambah lagi karena bertujuan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga masyarakat menjagi gemar membaca. Sebelumnya atau sebelum adanya kafe perpustakaan pengunjung hanya berkisar antara 400 orang, jumlah tesebut masih terhitung sangat minim  dibanding dengan banyaknya masyarakat kota Kediri yang mencapai angka 300.000 orang. Bapak Tri Krisminarko juga mengatakan bahwa koleksi buku yang ada masih perlu ditambah. Jumlah koleksi buku yang saat ini hanya sekitar 20.000 buku. Dan dari letak juga agak jauh dari kompleks pendidikan baik perguruan tinggi maupun sekolah ( Antara Jatim, 2012)

Perpustakaaan perlu melakukan inovasi-inovasi baik dari segi layanan, konsep, kegiatan, maupun sarana dan prasarana, agar para pengunjungnnya tidak bosan. Perpustakaan kefe ini memang sudah terbilang moderen, namun juga memiliki beberapa kekurangan, semisal buku yang berpeluang lebih cepat rusak karena terkena, makanan, minuman dan sebagainya. Membutuhkan tenaga karyawan yang lebih, karena tiidak hanya melayani pustakawan tetapi juga melayani pemesanan  makanan dan minuman. Juga memerlukan biaya yang lebih besar untuk dapa menyediakan fasilitas, desain, dan interior perpustakaan. Di perpustakaan kafe perlu juga menjalin kerjasama dengan pihak lain sebagai menyedia layanan konsumsi, yakni makan dan minuman. Dalam perpustakaaan juga harus jelas peraturannya, misalnya layanan sirkulasi( peminjaman buku) atau layann membaca buku di tempat, lalu mengenai keanggotaan perpustakaan, dan juga layanan tentang sanksi (Masiani, 2016).

Dengan adanya perpeustakaan kafe ini diharapkan dapat menigkatkan jumlah minat baca masyarakat yang bertuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga kualitas bangsa juga meningkat.

Asalkan ada niat, maka datanglah ke perpustakaan. Karena disana banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan, dan kegiataan tersebut lebih condong atau lebih banyak menghasilkan sikap dan nilai yang positif dibandingkan yang negatifnya. Walapun di sekitar kita perpustakaan belum semenarik perpustakaan berkonsep kafe, setidaknya sudah ada fasilitas internet disana. Maka dari itu jangan ragu-ragu lagi untuk mengunjungi perpustakaan, jangan menunggu ada teman untuk pergi e perpustakaan. Pergi sendiri juga tidak ada salahnya karena disana terdapat banyak sekali berbagai ilmu yang mungkin kita belum ketahui.

Oleh Diyan Astuthik

Mahasiswi PAI IAIN Kediri

About author

Otomasi Perpustakaan IAIN Kediri

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa otomasi perpustakaan diartikan sebagai penggunaan teknologi komputer untuk pengelolaan perpustakaan seperti pendataan buku, pengolahan buku, peminjaman dan pengembalian koleksi ...