MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT MELALUI LITERASI

Sebagai salah satu program pendidikan non formal dan dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa serta usaha melestarikan program Pendidikan Non Formal melalui salah satu program membangun kesadaran literasi pada masyarakat akan peningkatan pengetahuan dan wawasan yang lebih baik dan berarah pada progres atas kehidupan serta berkepribadian baik pribadi, kelompok maupun dalam bermasyarakat. Hal ini merupakan tanggung jawab Negara baik itu dari pusat maupun pada tingkatan daerah dan semua komponen bangsa untuk memenuhinya, apalagi dikaitkan dengan amanat konstitusi kita yang menyatakan bahwa negara berkewajiban “mencerdaskan kehidupan bangsa” (Alenia keempat Pembukaan UUD 1945).

Kemajuan suatu bangsa menuntut pemberdayaan masyarakat kearah kemajuan pula. Sebab, masyarakat motor pengerak bangsa. Dari sana lahir pusaran generasi yang akan mengendalikan bangsa kearah tujuannya. Maka dari itu, nuansa dan tradisi yang mendukung pada terciptanya kualitas masyarakat maju perlu diupayakan. Salah satunya tradisi literasi sebagai suatu kebiasaan dan pengembangn seluruh lapisan masyarakat. Tidak terbatas pada kalangan akademis tertentu, tetapi juga totalitas kelas masyarakat.

Pada zaman millennium sekarang ini, kesadaran akan literasi sangatlah kurang terutama pada kalangan orang tua. Padahal orang tua sangat berpengaruh terhadap pendidikan keluarga. Oleh sebab itu orang tua dituntut untuk sadar akan literasi. Literasi tidak hanya terbatas pada membaca dan menulis tetapi literasi merupakan kegiatan mengolah informasi yang mendorong pendidikan efektif demi terciptanya masyarakat maju.

Alasan kami memilih studi kasus di kampung Jambu karena kami menganggap yang terjadi di kampung Jambu patut dijadikan objek penelitian kami. Kurangnya minat baca pada anak karena faktor orang tua yang juga kurang dalam minat baca.  Selama ini budaya literasi yang dilakukan pemuda Kampung Jambu masih terbatas pada pengingatan kesadaran pentingnya membaca terhadap anak-anak. Akan lebih baik jika seluruh masyarakat sadar akan betapa pentingnya membaca. Inilah yang mendasari kami membuat esai untuk menyadarkan masyarakat melalui literasi.

PEMBAHASAN

Korelasi masyarakat maju dengan literasi

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre dan cultural.  Istilah literasi atau dalam bahasa Inggris literacy berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti “a learned person” atau orang yang belajar.

Literasi dianggap merupakan inti kemampuan dan modal utama bagi siswa maupun generasi muda dalam belajar dan menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Pembelajaran literasi yang bermutu adalah kunci dari keberhasilan siswa di masa depan. Untuk itu dibutuhkan pembelajaran literasi yang bermutu pada semua mata pelajaran, oleh semua guru yang dianggap sebagai guru literasi (teachers of literacy).

Fenomena yang terjadi di masyarakat minat baca pada anak-anak terus menurun setiap tahunnya. Indonesia berada pada peringkat 60 sebagai Negara sadar membaca di dunia. Bukan hanya anak-anak yang memiliki kesadaran yang rendah untuk membaca buku bahkan orang tua pun juga menjadi faktor yang sangat besar. Karena perilaku anak rata-rata meniru orang tua. Jika orang tua memiliki kesadaran membaca yang rendah maka 90% anak juga akan malas untuk membaca. Sehingga dibutuh peran serta dari masyarakat dan juga pemerintah untuk meningkatkan kembali minat baca pada orang tua agar bisa merangsang anak untuk membaca buku.

Hubungan antara masyarakat maju dengan literasi sangatlah kuat. Dimana masyarakat yang dikatakan telah maju adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan yang luas. Akan tetapi sekarang masyarakat semakin maju tetapi tidak diikuti dengan literasinya. Banyak orang yang mulai meninggalkan membaca buku dan lebih memilih untuk bermain dan sibuk dengan gadget mereka. padahal sebuah masyarakat dikatakan maju jika mereka mendapat banyak pengetahuan dengan cara membaca buku. Sehingga korelasi antara masyarakat maju dan literasi sebenarnya sangat kuat. Tanpa sebuah buku memang masyarakat masih bisa tetap mendapatkan pengetahuan atau informasi. Tapi kesadaran untuk literasi amatlah sangat kurang. Terutama kalangan orang tua notabene mereka lebih sibuk bekerja dan waktu untuk membaca sangat kurang. Mereka hanya meminta anak-anak mereka untuk membaca tanpa ada pemikiran bahwa perilaku anak meniru orang tua mereka. jika orang tua mereka berliterasi maka anak-anak mereka secara tidak langsung pasti juga terpengaruh.

Sikap masyarakat terhadap literasi di Kampung Jambu

Melalui Taman Baca Masyarakat (TBM) Gelaran Buku Jambu yang berlokasi Ds. Jambu Kec. Kayen Kidul Kab. Kediri. Pendiri TBM Gelaran Buku adalah Mas Iwan Kapit dan kawan-kawan menyuarakan pentingnya literasi untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga bisa mewujudkan masyarakat maju terutama di Kampung Jambu. Dorongan-dorongan budaya membaca (perbukuan) dan literasi masyarakat Kampung Jambu terus dilancarkan. Tidak sedikit masyarakat yang apatis terhadap literasi walaupun di Kampung Jambu sudah memiliki TBM mandiri yang bisa dikatakan cukup memadai. Terutama kalangan orang tua dan lansia, kesadaran literasi jauh tertinggal, memurut pengamatan kami kesadaran literasi di kalangan orang tua dan lansia mempunyai banyak faktor diantaranya :

  1. Buta huruf dan aksara
  2. Tidak memiliki banyak waktu untuk membaca buku
  3. Tingkat pendidikan yang rendah

Padahal literasi sangatlah penting bagi semua lapisan masyarakat. Tidak hanya pada kalangan anak-anak ataupun remaja yang masih menempuh pendidikan formal saja. Tetapi sangatlah perlu pada kalangan orang tua  dan lansia juga. Sebab orang tua dan lansia menjadi sumber ilmu dan motivasi di lingkungan paling kecil yaitu keluarga.Adapun sikap masyarakat terhadap literasi di kampung jambu sehingga menunjang di kehidupan sehari-hari sebagai berikut :

Sikap analis Artinya : setiap masyarakat mempunyai pemikiran untuk menganalisis anggaap saja tentang literasi di masyarakat sehingga dapat menilai suatu perkembangan tamanan yang ditanami, yang dapat memberikan kritikan, disamping itu masyarakat juga dapat mengembangkan suatu yang dapat bermanfaat.

Kreatifitas Artinya : Setiap masyarakat yang ingin mewujudkan sikap literasi di masyarakat di tuntut untuk memiliki kemampuan kreatifitas yang kuat sehingga nantinya dapat mengembangkan suatu produk yang dihasilkan oleh orang lain dan akhirnya kita dapat memproduksi sendiri.

Organisatoris Artinya : orang yang hebat tidak lahir sebagai orang hebat di dalamnya pasti ada seseorang yang mendukung, jadi kita sebagai seorang remaja, orang tua haruslah memiliki sikap organisatoris dapat memimpin suatu organisasi dan kita haruslah mencari informasi dari orang lain sehingga kita memiliki refrensi yang banyak yang nantinya dapat kita kembangkan untuk mewujudkan sikap literasi dimasyarakat.

Jujur dan memiliki semangat Artinya : setiap remaja, orang tua yang ingin mewujudkan sikap literasi dimasyarakat harus memiliki sikap dan sifat jujur, hal ini sangatlah penting karena suatu informasi yang didapat ketika orang tersebut tidak jujur maka data yang diperoleh maka akan di manipulasi, kemudian biasanya jika sudah lama ingin mewujudkan literasi dimasyarakat maka semangat yang ada semakin lama semakin luntur, sehingga perlu namanya semangat juang untuk meraih apa yang kita inginkan dan dapat mewujudkan sikap literasi dimasyarakat.

Peran Masyarakat Kampung Jambu untuk menumbuhkan literasi sebagai menunjang Pendidikan yang Berkarakter

Bangsa Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai penggerak pembangunan. Sumber daya yang mutu mengacu pada dua hal. Pertama, memiliki kapabilitas yang cukup mencakup (pengetahuan dan keterampilan). Kedua, memiliki karakter keindonesiaan yang kuat agar ilmu dan keterampilan yang dimiliki bermakna bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan agama.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mendengar beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna atau saling digunakan secara bergantian contohnya adalah kata akhlak, etika moral dan karakter. Kata akhlak dikonotasikan sebagai kata yang memiliki nuasa religius, kata kepribadian masuk dalam ranah ruang psikologi, sedangkan kata karakter sering diletakkan pada sosok individu sehingga sering ada sebutan seseorang berkarakter kuat atau berkarakter lemah.

Akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan tindakan secara spontan, tanpa pemikiran dan pemaksaan (suwito, 2003), sedangkan etika merupakan ilmu tentang apa yang baik dan buruk, kumpulan asas yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai benar/salah yang dianut golongan masyarakat.

Nilai, moral dan etika merupakan fondasi, berada dalam wilayah kualitas baik/buruk, etis/tidak etis, dan moral/amoral. Sedangkan, karakter telah masuk pada wilayah tindakan. Baik dan buruk karakter bergantungan pada pilihan dan kebiasaan nilai yang dipilih.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik tehadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsan sehingga menjadi masnusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter dalam keluarga adalah proses pembentukan mental dan tingkah laku seorang anak manusia secara berkesinambungan dalam unit terkecil di dalam masyarakat.

Sejatinya, pendidikan dimulai dari dalam keluarga karena tidak ada yang tidak dilahirkan dalam keluarga. Jauh sebelum ada lembaga pendidikan yang disebut sekolah, keluarga telah ada sebagi lembaga yang memainkan peran penting dalam pendidikan yakni sebagai peletak dasar. Dalam dan diri keluarga orang mempelajari banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bertutur kata, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana menganut nilai-nilai tertentu sebagai prinsip dalam hidup. Intinya, keluarga merupakan basis pendidikan bagi setiap orang.

Karakter merupakan representasi identitas seseorang yang menunjukkan ketundukannya pada aturan atau standar moral yang berlaku dan merefleksikan pikiran, perasaan dan sikap batinnya yang termanifestasi dalam kebiasaan berbicara, bersikap dan bertindak.

Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya mendorong para pelajar tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berfikir dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang benar, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Pendidikan karakter tidak terbatas pada transfer pengetahuan mengenai nilai-nilai yang baik, tetapi menjakau bagaimana memastikan nilai-nilai tersebut tetap tertanam dan menyatu dalam pikiran serta tindakan.

Cara membangun kesadaran masyarakat Kampung Jambu akan pentingnya literasi

Sampai saat ini tingkat kesadaran akan literasi di Kampung Jambu masih tergolong rendah terutama dikalangan orang tua dan lansia. Program yang ada masih belum berjalan dengan efektif karena hanya mengenai sasaran kalangan anak-anak dan remaja. Program yang di jalankan Mas Iwan Kapit dan kawan-kawan yaitu Gerobak Baca Keliling. Program ini merupakan program yang di canangkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi (budaya membaca).  Akan tetapi, program tersebut masih memiliki kekurangan dalam hal target yang dikenai, Karena yang dikenai hanya kalangan anak-anak dan remaja. Sehingga, perlu pemerataan sasaran yaitu, pada kalangan orang tua dan lansia sebab orang tua merupakan sumber pendidikan yang paling utama dalam keluarga. Jika keseluruhan orang tua memiliki kesadaran dalam hal literasi maka akan menciptakan masyarakat yang maju dalam hal: ekonomi, karakter, pendidikan, dan informasi terbaru.

Maka, kami mengajukan program ‘Nyangkruk Buku’ yang merupakan program dalam hal menanamkan kesadaran literasi dikalangan orang tua dan lansia. Program tersebut memberi stimulus secara perlahan untuk menarik minat mereka.

  1. Untuk bapak-bapak program ini diterapkan melalui penyediaan buku di warung kopi (tempat berkumpul), sebelum menyediakan buku kami melakukan observasi terhadap karakteristik: mata pencaharian; psikologi dan kebudayaan. Supaya program yang kami canangkan dapat diterima secara baik. Buku-buku yang kami sediakan yaitu buku peternakan dan pertanian, karena mata pencaharian penduduk di Kampung Jambu mayoritas di sektor peternakan dan pertanian. Sehingga diharapkan melalui perluasan pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, dapat meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat.
  2. Untuk ibu-ibu program ini diterapkan melalui penyediaan buku di tempat berkumpul mereka, yaitu PAUD, acara arisan dan teras kumpul. Buku yang kami sediakan yaitu buku tentang merawat anak, pendidikan keluarga, home industry, tata rias, dan resep memasak. Sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan keluarga dan menambah keharmonisan keluarga. Selain itu kami melakukan sosialisasi dan evaluasi program kerja setiap hari Minggu jam 00 WIB. Sehingga kami dapat melihat perkembangan program yang kami jalankan.

Apabila program tersebut mengalami peningkatan, maka akan menciptakan suatu masyarakat yang maju sehingga turut menyumbang kemajuan bangsa.

Peran pemerintah dalam mendukung literasi dan perpusatakaan daerah untuk mewujudkan masyarakat maju

Agar kesadaran literasi tercapai dengan baik, dan masyarakat memiliki kemauan untuk membaca buku. Bukan melalui buku-buku digital atau yang disebut dengan E-book. Tetapi buku yang selalu ditenteng kemana-mana dan terdapat wujud nyatanya. Pemerintah daerah sangat mendukung dengan adanya program yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran literasi. Jika di sekolah biasanya 10-15 menit sebelum KBM berlangsung anak-anak diberikan buku agar mereka membacanya dan kemudian dicatat isi dari buku yang mereka baca dan diberikan kepada guru jam pertama.

Ini adalah perintah dari pemerintah. Pemerintah juga berperan besar dalam membantu kesadaran literasi pada masyarakat terutama dan ini merupakan tugas dari aparat desa masing-masing. Aparat desa sangat mendukung dan mereka memberikan banyak bantuan serta perijinan untuk diadakannya berbagai event yang berhubungan dengan literasi. Bahkan sekarang di setiap perpustakaan selalu ditambah buku-buku baru dan juga di pasang hotspot wifi gratis agar semakin banyak orang yang datang ke perpustakaan bukan hanya untuk mencari wifi tetapi juga untuk membaca buku di perpustakaan daerah.

Pemerintah berusaha untuk membuat masyarakat mendapatkan tempat dan fasilitas yang layak agar mereka mau membaca buku. Sehingga dengan adanya wifi gratis semakin banyak orang yang datang keperpustakaan untuk sekedar membaca buku dan menggunakan fasilitas yang diberikan. Banyak juga mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan mencari buku diperpustakaan dan juga melalui media internet. Disinilah kegunaan dari perpustakaan untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya literasi. Mereka bisa mendapatkan 2 hal yang mereka butuhkan dalam satu tempat secara langsung.

Ada program pemerintah yakni Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang dikelola oleh Kementrian Informasi dan Komunikasi (KOMINFO). Adapun fungsi yang nomor tiga (3) yang berbunyi sebagai peningkatan literasi masyarakat di bidang onfomasi dan media massa serta teknologi informasi dan komunikasi di kalangan anggota KIM dan masyarakat.

Fungsi untuk meningkatkan literasi di bidang informasi, yaitu bagaimana agar memandang bahwa upaya memperoleh informasi sebagai kebutuhan hidup dan sudah terbiasa mencari informasi dari berbagai sumber sehingga masyarakat kampung jambu bisa memperoleh wawasan yang luas serta bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.

Fungsi literasi media massa, merupakan kemampuan menggunakan media massa secara cerdas, sehat dan mampu mendayagunakannya dalam kehidupan masyarakat, dari program pemerintah dengan adanya literasi yang menggunakan media massa ini harapannya bisa memberi membawa kampung jambu bisa eksis dalam media massa.

Fungsi literasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi, ialah kemampuan masyarakat dalam mengakses dan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer dan internet untuk kepentingan mengakses informasi atau untuk mendayagunakan sebagai jasa dan produk.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan sebagai berikut :

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Gelaran Buku adalah lembaga pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis dan kegiatan sejenis ataupun kegiatan lain terutama dalam pendidikan non formal yang dilengkapi dengan bahan bacaan dan sarana prasarana yang ada serta didukung oleh pengelola yang keberadanya di area public. Keberhasilan akan taman bacaan tergantung pada upaya yang dilakukan taman bacaan Gelaran Buku antara lain melakukan berbagai jenis kegiatan literasi dan usaha kreatif.

Perlu peningkatan Sikap Kedisiplinan dari pengelolaan dan pendampingan sangat dibutuhkan dalam proses dan berlangsungnya kegiatan TBM Area Publik Gelaran Buku dan juga keberadaan akan TBM ini dirasa bermanfaat dan menjadi suatu layanan publik.

Melihat hasil pengamatan dan peneltian ada kekuatan dan kelemahan pengadaan program Taman Baca Masyarakat (TBM) Gelar Buku sebagai berikut:

Kekuatan

Sebuah TBM atau rumah baca atau pondok baca, akan menjadi kuat dan unggul apabila didukung oleh kondisi-kondisi sebagaimana berikut: Memiliki kegiatan pendukung lain yang menarik, menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya : program Gerobak Baca Keliling. Program ini merupakan program yang di canangkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi (budaya membaca).  Program nyangkruk buku ini bisa diterapkan kepada orang tua sehingga dapat memberi sarana informasi, mampu meningkatkan kualitas pendidikan keluarga dan menambah keharmonisan keluarga, dan diharapkan melalui perluasan pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, dapat meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat.

Kelemahan

Kelemahan yang dimiliki oleh Taman Baca Masyarakat (TBM) Gelar Buku antara lain: a. Kinerja yang kurang optimal dan kurangnya pendampingan dari penyelengara maupun instansi terkait sehingga keberhasilan dari TBM kurang optimal. b. Tempat yang kurang luas untuk penyimpanan buku dan peralatan penunjang bagi TBM. c. Kebiasaan dan pola pikir masyarakat yang sulit dirubah

Saran

Berdasarkan simpulan di atas disarankan :

Dalam pengelolaan TBM Area Publik Citra Agung pengelola diharapkan lebih aktif dalam pelaksanaan kegiatan karena kegiatan TBM akan berjalan dan bermanfaat dengan pengelolaan yang baik.

Perlu adanya tempat yang nyaman untuk membaca sehingga para orang tua bisa menghabiskan waktu luangnya untuk membaca atau ngobrol santai.

Harapan Penulis

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan diatas, dapat disampaikan harapan penulis terhadap program seperti gerobak baca keliling, nyangkruk buku adalah bisa menjadi alternatif pilihan dalam pembiasaan membaca dan menulis (literasi) di Sekolah serta di Masyarakat Kampung Jambu.

 

Oleh: Moch Hendra Irawan

About author