Tantangan Sebagai Profesi Pustakawan

Dalam membicarakan suaru profesi tidak lepas dari pengertian kata profesi. Rofesional dan profesionalisme, profesionalisme pustakawan mengandung arti pelaksanaan kegiatan perpustakaan yang didasarkan pada keahlian, rasa tanggung jawab dan pengabdian.

Mutu hasil kerja yang tidak dihasilkan dari oleh tenaga yang bukan pustakawan dalam mengelola sebuah perpustakaan akan menghasilkan output yang jauh dari harapan tidak seperti sesuatu yang dihasilkan dari tangan atau pemikiran tenaga profesi pustakawan.

Melihat kondisi betapa pentinganya dalam mengelola perpustakaan maka sangat perlu untuk memaksimalkan profesi pustakawan yang dituntut untuk selalu mengembangkan kemampuan dan keahlian untuk memberikan hasil kerja yang lebih bermutu dan sumbangan yang lebih besar kepada masyarakat pemakai perpustakaan.

Seiring dengan bergulirnya waktu dalam menjalankan prefesinya sebagai pustakawan yang mengabdi untuk memajukan ilmu pengetahuan dan  menjadikan anak – anak bangsa yang bermartabat serta berbobot terkadang seorang pustakawan mengalami rasa kejenuhan yang luar biasa efek dari kejenuhan tersebut bisa menjadikan tidak maksimalnya memberikan layanan terhadap pemustaka terlebih hilangnya produktifitas pustakawan itu sendiri karena sumber dari inovasi dan kreasi seseorang yaitu hati telah berkarat seperti karatnya besi atau seperti layunya bunga yang tidak terawat dengan baik

Jika hal tersebut terjadi pada diri pustakawan maka mereka lebih cenderung untuk ogah ogahan semaunya sendiri dan tidak memperhatikan orang lain, maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengobati hati yang sakit dan islam telah memberikan solusi atau obat hendaknya pustakawan selalu ingat akan Allah SWT / berdzikir seperti dalam al qur’an surah al ‘araf ayat 205 dan ingatlah Tuhanmu didalam dirimu dengan penuh tawadhu’ serta takut tanpa mengeraskan suara pada waktu pagi dan sore dan janganlah engkau termasuk orang yang lupa

Menurut Ibnu Qoyum:

  1. Ketika seseorang berdzikir maka khakikatnya malaikat sedang membangunkan istana yang akan ditempatinya disurga kelak sebaliknya ketika seseorang berhenti berdzikir maka berhenti pula malaikat membangun istananya
  2. Dengan berdzikir pintu pintu neraka tertutup rapat
  3. Malaikat memintakan ampun baginya sebagaimana orang orang yang bertaubat atas segala dosa dosanya
  4. Gunung, lembah, lautan, pohon kagum dan bangga serta gembira kepada orang yang berdzikir
  5. Dzikir menambah keceriaan wajah didunia dan sebagai lampu penerang di akhirat kelak.

Pentingnya berdzikir kepada Allah sehingga Allah berfirman dalam hadist qudsinya

Aku terkait dengan prasangka hambaKu

Aku akan menyertainya ketika ia Berdzikir kepadaKu

Jika hambaKu berdzikir didalam hatinya maka Aku akan berdzikir kepdanya didalam diriKu

Jika mereka berdzikir ditengah tengah kelompok orang maka aku akan berdzikir kepadanya ditengah kelompok yang lebih baik dari pada mereka

Nabi Muhammad SAW bersabda perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir adalah bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati

Maka bagi pustakawan ketika menjalankan profesinya sebagai pustakawan dan memberikan layanan  terhadap pemustaka baik ketika berada di koleksi umum, koleksi referensi, koleksi tandon, pengolahan, sirkuasi dan tempat tempat lainnya untuk tidak meninggalkan berdzikir kepada Allah SWT dimana dan kapanpun pustakawan tersebut berada sehingga dengan kesadaran yang maksimal ketika memberikan layanan akan menjadikan layanan prima dan terhindar dari karakter pustakawan yang ogah ogahan dalam memberikan layanan terhadap pemustaka

Wallahu’alam

By Basit Aulawi

Pustakawan IAIN Kediri

About author