PERPUSTAKAAN SIAP JALANI POLA HIDUP BARU (NEW NORMAL) DI TENGAH CORONA

Berdamai dengan Corona. Inilah yang menjadi trending topic di tengah dunia memerangi pandemic covid 19 yang belum juga mereda, bahkan WHO menyatakan bahwa covid 19 tidak mungkin hilang dan bisa menjadi virus endemik lain di komunitas kita. Korban jiwa semakin bertambah, ekonomi semakin terpuruk, negara maju pun seperti Jepang dan Jerman sudah mengalami resesi ekonomi. Sungguh sangat mencemaskan dampak multi-dimensional yang ditimbulkan.

Sejak pandemi mewabah di Indonesia dan kebijakan physical distancing serta Work From Home (WfH) diterapkan Maret lalu, hampir semua layanan tatap muka di ditiadakan, termasuk pelayanan di perpustakaan. Sejak saat itu pula, perpustakaan sebagai salah satu pusat kerumunan mahasiswa yang berdiskusi, mengerjakan tugas, atau sekadar menunggu jam perkuliahan di teras perpustakan sudah tidak lagi terlihat. Hal tersebut dilakukan demi memutus mata rantai penularan Covid-19.

Juni ini, mulai membuka kembali pelayanan secara luring (offline) dengan tetap menerapkan protokol Covid-19. Kini, di teras perpustakaan telah terpasang kursi tunggu untuk para pemustaka dengan jarak yang telah ditentukan. Tak hanya itu, di depan pintu masuk perpustakaan disediakan juga handsanitizer yang wajib digunakan oleh pemustaka saat berkunjung. Penyusunan aturan pelayanan sesuai standar protokol Covid-19 untuk menghadapi situasi new normal di perpustakaan. Untuk mengantisipasi kerumunan yang tidak sesuai dengan protokol penanganan persebaran Covid-19, maka perpustakaan menerapkan beberapa kebijakan baru bagi pemustaka di lingkungan operasionalnya. Hal tersebut tertuang dalam surat edaran nomor: B-455/In.17/UPT.Perpust/HM.02.2/VI/2020 tentang sistem layanan UPT Perpustakaan dalam tatanan normal baru.

Perpustakaan memberikan pelayanan selama lima hari kerja, sesuai dengan jam kerja Kemenag RI. Sebelum pandemi, layanan perpustakaan dilakukan selama enam hari (Senin-Sabtu). Selain itu, perpustakaan masih membagi layanan menjadi dua jenis, yaitu daring seperti permohonan pembuatan beberapa surat keterangan hingga bimbingan/ konsultasi pustaka dengan pustakawan. Sedangkan layanan yang diberikan secara luring meliputi layanan pengembalian dan peminjaman koleksi fisik. Mekanisme pelayanan luring tersebut juga diatur sedemikian rupa supaya tetap aman, baik bagi pemustaka maupun bagi pustakawan yang bertugas. Sederet aturan seperti pemustakan dan pustakawan harus menggunakan masker, menggunakan handsanitizer, wajib menjaga jarak minimal 1,8 meter, menggunakan alat tulis masing-masing, mengambil nomor antrean, serta mematuhi aturan pembatasan pelayanan peminjaman koleksi.

Aturan pembatasan waktu pelayanan ini dilakukan dengan metode shift, sehingga jumlah pemustaka yang mengakses ruang sirkulasi dibatasi demi mencegah terjadinya kerumunan pengunjung. Masing-masing shift diberlakukan selama 30 menit dengan maksimal pemustaka 10 orang. Selain itu, perpustakaan juga masih melakukan penutupan (pembatasan) fasilitas lain bagi pemustaka di antaranya ruang akses komputer, bookless library, hall perpustakaan, ruang tandon, dan ruang diskusi. Perpustakaan juga memberlakukan akses satu pintu untuk pemustaka yang datang dan meninggalkan perpustakaan.

 

Oleh Nurwaniatun

Pustakawan Madya IAIN Kediri

About author

GENERASI EMAS DAN PROBLEMATIKANYA

Di era saat sekarang ini, keilmuan seseorang yang didapatkan dari bangku sekolah mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang memakan waktu lumayan lama 16 ...