Hantu itu bernama “Turnitin”

Akhir-akhir ini, banyak mendengar keluhan dari mahasiswa terkait dengan ditolaknya proposal skripsi dan tesis yang telah dibuatnya. Bukan karena temanya yang salah, tapi lebih karena disebabkan dengan adanya aturan baru yang mensyaratkan kelulusan tulisannya saat diuji menggunakan turnitin. Karena merupakan hal baru, maka hampir semua mahasiswa merasa kelabakan dan bahkan kesusahan dalam “mensiasati” tulisan agar lolos uji turnitin.

Sebelum berbicara banyak tentang apa dan bagaimana turnitin, alangkah baiknya kita paham dulu arti plagiarisme dan similiraty. Dua hal yang sama dalam persepsi namun “seharusnya” berbeda dengan prakteknya. Dalam kamus besar bahasa indonesia, plagiarisme diartikan sebagai penjiplakan yang melanggar hak cipta. Sedangkan dalam wikipedia, plagiarisme diartikan sebagai pengambilan atau penjiplakan terhadap karangan, pendapat, ide dan sebagainya yang kemudian dijadikan seolah-olah hasil karya sendiri. Dalam Permendiknas no. 17 tahun 2010 disebutkan bahwa tindakan plagiat atau plagiarisme adalah tindakan penciplakan karya ilmiah milik orang lain baik dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja untuk memperoleh kredit poin atau suatu nilai dari sebuah karya dengan mengutip sebagian atau seluruh bagian dari karya tersebut tanpa mencantumkan sumber referensi yang tepat.  Jadi yang namanya plagiat adalah usaha mengaku-aku hasil karya orang lain, baik itu berupa tulisan, pendapat, opini, prototype, software dan lain sebagainya sebagai karya sendiri secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena telah melanggar hak cipta dari seseorang. Jikalaupun ingin memanfaatkan karya tersebut dalam karya yang akan dibuat, maka harus melalui mekanisme yang dibenarkan. Misalkan saja meminta ijin kepada pemilik asli suatu karya, atau dengan cara mencantumkan sumber dari karya ilmiah tersebut sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah disepakati.

Plagiarisme mempunyai pengertian yang sedikit berbeda dengan similarity. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, similarity diterjemahkan sebagai kesamaan. Kesamaan antara (dalam konteks tulisan) kandungan artikel yang telah dibuat dengan sumber-sumber yang telah ditentukan. Sebagai contoh, dalam turnitin, sumber utama pembanding tingkat kesamaan adalah internet sources, publications dan student papers. Jadi proses pembandingan antara artikel dengan sumbernya harus secara online, karena sumber-sumber pembandingnya ada di internet. Similiraty hanyalah indikator awal untuk menetapkan bahwa sebuah artikel atau karya ilmiah tersebut ada indikasi plagiarisme atau tidak. Yang menentukan plagiasi atau tidak adalah manusianya itu sendiri dan turnitin bukanlah alat untuk melakukan judgment terhadap suatu karya.

Telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu alat untuk mengidentifikasi tingkat kesamaan (similarity) suatu karya ilmiah adalah turnitin. Sebenarnya masih banyak tools lain yang dapat di gunakan seperti iThenticate, Viper Anti-Plagiarism Scanner,  Plagtracker dan lain sebagainya. namun saat ini yang tools yang banyak digunakan untuk melakukan identifikasi tingkat kesamaan suatu karya oleh lembaga-lembaga (terutama perguruan tinggi) adalah turnitin. Turnitin banyak digunakan karena selain untuk pengecekan artikel, turnitin juga menyediakan manajemen aplikasi yang terstruktur dan sangat baik. walaupun ada beberapa kelemahan, seperti banyaknya kesalahan dalam identifikasi, harga yang sangat mahal, adanya database repository turnitin yang sering malah merepotkan penulis dan sebagianya, namun turnitin masih bisa dikatakan sangat membantu dalam proses identifikasi kesamaan suatu karya ilmiah.

Identifikasi kesamaan suatu karya sangat bermanfaat untuk menjaga originalitas suatu karya ilmiah. sebelum adanya alat pengidentifikasi ini, penulis akan dengan mudah menyalin karya orang lain dan digunakan untuk kepentingan penulis itu sendiri. Misalkan saja, mahasiswa A melakukan studi litaratur skripsi ke perpustakaan lain. Kemudian mahasiswa ini menulis persis dengan apa yang ada di skripsi yang dia jadikan rujukan tersebut dengan hanya mengubah obyek penelitian saja. Banyak terjadi kasus-kasus yang demikian dan tidak dapat terdeteksi karena tidak mungkin seorang dosen melakukan observasi terhadap karya-karya yang dijadikan rujukan oleh mahasiswa bimbingannya. Dengan adanya alat pengidentifikasi ini, dosen pembimbing akan dengan mudah mengetahui originalitas tulisan yang dibuat oleh mahasiswanya dengan alat ini.

Turnitin atau alat pendeteksi lain juga dapat bekerja dengan baik apabila ada dukungan dari faktor eksternal. Diantara faktor tersebut adalah maraknya gerakan open akses dan kebijakan upload karya yang diberlakukan pemerintah. Seperti disebutkan diawal bahwa turnitin bekerja dengan membandingkan karya dengan resource dari internet, publications dan student paper. Sehingga penting juga untuk memasifkan gerakan open acces untuk membantu mengurangi plagiarisme karya ilmiah.

Walaupun turnitin ini merupakan alat identifikasi yang sangat baik, namun bukan berarti turnitin ini sempurna. Masih banyak kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam turnitin. Misalkan saja dengan menyisipkan satu atau beberapa huruf kedalam sebuah tulisan, penggunaan kata-kata tertentu yang disembunyikan semisal kata references, kurang akuratnya jika mendeteksi image dalam file, dan masih banyak lagi cara-cara kotor yang bisa digunakan untuk “mengakali” turnitin dengan cara yang curang. Bukan berarti harus selalu menggunakan cara-cara yang curang agar lolos dalam identifikasi turnitin. Ada beberapa cara yang dibenarkan agar lolos dari identifikasi turnitin, misalkan saja penggunaan teknik parafrase, penulisan yang benar terkait dengan pengutipan seperti pemberian tanda “ “, tulisan menjorok kedalam dengan spasi satu dan lain sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk membuat pengutipan yang benar sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah. dengan cara yang demikian, maka kemungkinan besar tingkat similarity karya ilmiah yang kita buat akan rendah tingkat similarity-nya

Turnitin bukanlah hantu yang harus ditakuti oleh penulis, khususnya mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi ataupun tesis. Turnitin hanyalah alat bantu untuk menulis dengan cara yang benar dan sesuai dengan kaidah. Jika sudah melakukan penulisan dengan benar, maka identifikasi tingkat similarity akan rendah. Dan jika identifikasi tingkat kesamaan masih tinggi, berarti masih ada kaidah-kaidah yang belum dipahami secara baik dan benar. Menyalahkan turnitin seperti menyalahkan syetan akan menjerumuskan kita kedalam kubangan tulisan yang tidak akan pernah selesai sesuai dengan yang kita harapkan, maka teruslah belajar dan belajar untuk manaklukkan hantu yang bernama “turnitin”.

Sumber

Afdhal, Taufan Chalis, Taufiq A. Gani. 2014. Analisa Perbandingan Aplikasi Pendeteksi Plagiat Terhadap Karya Ilmiah. Seminar Nasional dan Expo Teknik Elektro. Fakultas Teknik – Universitas Syiah Kuala : Banda Aceh.

https://kbbi.web.id. Diakses pada 27 Juli 2020

https://id.wikipedia.org/. Diakses pada 27 Juli 2020.

Permendiknas R.I Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Oleh Muhamad Hamim

Pustakawan Muda IAIN Kediri

 

About author

Hedonisme Lebaran Indonesia di Musim Corona

Membaca buku Mocthar Lubis dalam mendeskripsikan karakter utama manusia Indonesia membuat saya mengernyitkan dahi. Beliau  mendeskripsikan manusia Indonesia dengan penuh hal-hal negative seperti  manusia Indonesia ...