GENERASI EMAS DAN PROBLEMATIKANYA

Di era saat sekarang ini, keilmuan seseorang yang didapatkan dari bangku sekolah mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang memakan waktu lumayan lama 16 tahun tidak lebih dari 15 %, sisanya 85 % dari total pengetahuan yang didapatkan berasal dari luar sekolah. Dan itu dihasilkan dari aktifitas membaca baik dari majalah, buku cerita, surat kabar bahkan media yang saat ini lagi trending yaitu media sosial. Hal tersebut sangat memprihatinkan jika hanya mengharapkan ilmu pengetahuan hanya dari bangku sekolah maupun kuliah tentu tidak mencukupi sebagai bekal berselancar didunia modern seperti saat ini.

Realita tersebut membuka mata kita bahwa betapa amat pentingnya kegiatan membaca bagi sosok manusia terlebih diera saat ini. Meskipun manusia terkepung dengan sarana media tehnologi yang dapat menyampaikan berbagai hal informasi dengan sangat cepat dan praktis di banding dengan buku. Namun peran buku tidak akan tergeser dengan zaman. Sebuah media sosial yang merupakan patner dalam pengembangan ilmu pengetahuan sangat terbatas karena hanya penyampaian dalam bentuk benda dan tidak dapat berbuat banyak dalam hal kebijakan, misalnya pengetahuan tentang kelautan dapat tersampaikan dengan menggunakan media visual namun falsafat tentag kelautan harus tersampaikan dengan membaca sebuah buku

Dalam masyarakat sekarang ini, media massa baik yang berupa audio visual seperti radio, televisi, surat kabar dan lainnya berkembang dengan pesat namun belum dapat digunakan secara maksimal untuk menggembangkan ilmu pendidikan dengan berbagai seluk beluknya, mereka hanya sebatas melihat televisi dengan berbagai macam program hiburan dan olah raganya dibanding harus melihat berlama lama dengan program ilmu pengetahuannya sehingga program ilmu pengetahuan yang ada di televisi kurang diminati para sutradara atau team redaksi karena sedikit atau bahkan tidak adanya iklan yang mendukung program tersebut sementara iklan merupakan motor penggerak sebuah acara pada televisi.

Karena itu kesadaran membaca harus dibina dan ditingkatkan lagi di semua jenjang usia mulai anak – anak, remaja, dewasa bahkan orang tua dan manula mereka harus mempunyai budaya baca dalam kehidupannya. Sedangkan sebuah kegemaran atau budaya membaca tidak serta merta tumbuh dengan sendirinya secara alami namun harus ditanam, dipupuk, dibina, dan dirawat, pembinaan membaca tersebut tidak hanya terbatas pada tehnik penguasaan membaca dengan cepat dan tepat namun juga harus dilatih bagaimana cara memilih bahan bacaan yang sesuai dengan usia, apakah bahan bacaan yang mereka baca ada unsur nilainya untuk anak pada usia usia mereka.

Dan pada saat sekarang ini ada banyak faktor yang menjadikan negara kita jauh tertinggal dengan negara tetngga dari segi budaya membaca, ada beberapa faktor yang menjadikan hal tersebut terjadi, diantaranya adalah :

  1. Orang tua ketika dirumah dan para guru yang ada disekolah kurang memberikan tauladan atau contoh sebagai sosok yang mempunyai kebiasaan serta kegemaran membaca, orang tua dan guru lebih menyukai ngobrol, bercanda, berselancar dengan Hp ketika di sekolah dan selalu melihat televisi setiap saat setiap waktu ketika berada di rumah.
  2. Kurang tersedianya bahan bacaan yang baik dan sesuai dengan keinginan mereka, baik ketika berada di perpustakaan sekolah terlebih kurang atau bahkan tidak ada sama sekali bahan bacan yang tersedia di rumah terutama diruang tamu.
  3. Seoang guru atau orang tua tidak pernah memberikan pendidikan bagaimana cara membaca dengan baik dan benar terhadap sebuah buku bacaan atau memberikan cara bagaimana tehnik dan strategi membaca

Ketiga faktor diatas merupakan bagian yang dapat menghambat budaya membaca bagi generasi sekarang dan hal tersebut haruslah dirubah, jika menginginkan para generasi melenia yang merupakan generasi mendatang akan datang dengan menjadi bangsa dari sebuah generasi yang berbudaya

Terdapat tiga langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan generasi emas tersebut

  1. Meningkatkan minat baca guru dan orang tua dengan menambah jumlah waktu yang teralokasikan untuk membaca, tentu juga berbagai ragam bacaan ilmu penegtahuan juga harus kita tambah dan tidak merasa cukup hanya membaca majalah atau surat kabar saja, bahkan kita sering mendengar ketidak tersediannya waktu untuk membaca, hal tersebut merupakan sebuah alasan yang dicari cari begitu banyak waktu yang luang sebelum mandi, ketika menunggu sarapan, waktu menjelang tidur malam atau waktu waktu yang lainnya. Hilangkan sebuah gambaran membaca itu harus beada di belakang meja dengan kaca tebalnya tapi buatlah senyaman mungkin ketika membaca, ketika berada ditaman, di kafe, ditempat tidur atau bahkan didapur ketika menunggui istri sedang memasak.
  2. Menyediakan bahan bacaan, merupakan harga mati harus tersedia bahan bacaan bagi anak anak atau bahkan keluarga agar terpupuk  budaya gemar membaca, orang tua dan guru selayaknya memilih bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan selera mereka tidak memaksakan sebuah bacaan yang tidak disukainya karena akan menjadikan keengganan untuk membaca
  3. Mengajar tehnik membaca, seseorang akan kecanduan membaca jikalau mereka mendapatkan kenikmatan atau intisari sebuah buku yang dibacanya maka seorang guru dituntut untuk memberikan materi bagaimana cara membaca yang tepat sehingga mendapatkan sesuatu hal yang baru dari apa yang dibacanya. Ada beberapa tehnik membaca diantaranya teknik scanning, teknik selecting, teknik sq3r dan teknik skipping.

Dengan berbagai macam kendala serta sebuah solusi akan budaya membaca bagi generasi yang akan datang,  maka tidak ada kata terlambat apalagi sulit untuk menciptakan budaya bahkan membudayakan membaca di tengah keluarga minimal pada diri kita masing masing.

By: Moch Basit Aulawi

About author

Syakal : Syiar Karya Literasi

Kami adalah portal digital hasil karya anak bangsa (dibawah kendali dan viewer Perpustakaan IAIN Kediri), mengundang para author sekalian untuk mempublikasikan ide, karya, maupun opininya ...