Perkembangan Perpustakaan & Budaya Literasi

Perpustakaan adalah institusi yang didalamnya terdapat berbagai macam informasi universal yang keberadaanya sangat dibutuhkan oleh khalayak umum sebagai pondasi bagi pemerintah untuk mencerdaskan warga negara. Segala bentuk aktifitas perpustakaan tidak jauh dari nilai nilai pendidikan, kebudayaan serta penelitian.

Sebagai based of learning perpustakaan berada pada gerbang terdepan bagi pemustaka untuk mendapatkan berbagai macam informasi serta data data yang dicari . Adanya informasi merupakan fadhu ain bagi dunia perpustakaan karena tuntutan masyarakat agar perpustakaan berbenah dan memberikan akses informasi yang spesifik, mudah, cepat, tepat dan akurat maka hal tersebut harus disiapkan oleh pemustaka dan perpustakaan

Pemangku perpustakaan serta pustakawan mau tidak mau menyediakan kebutuhan masyarakat sesuai dengan kebutuhannya. Sesuai dengan UU no 43 tahun 2007, pasal 3 dikatakan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, informasi, dan  rekreasi.

Berbicara pendidikan, mari berbicara tentang literasi. era digital  saat ini, budaya literasi seperti membaca, adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan anak bangsa yang sebagai penerus generasi intelektual. berbagai ruang untuk membaca sudah dijawab oleh zaman era digital sekarang  ini dengan sederet media sosial yang ada. Facebook, twitter, instagram, serta media online yang memberikan ruang bebas untuk kita budayakan budaya literasi.

Di abad yang kian kompetitif, pendidikan menjadi kebutuhan penting. Para pejabat yang memiliki wewenang akan kebijakan mengenai keberlangsungan pendidikan dalam menjadikan dunia pendidikan berkualitas, tentu sudah menyadari hal tersebut. Dalam hal ini, ikhtiar dari pada pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah secara masif mendorong masyarakat agar mempunyai kegemaran untuk berliterasi yaitu mempunyai kebiasaan membaca dan menulis sesuai dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 untuk menumbuh kembangkan karakter murit melalui kebijakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Dan untuk merealisasikan hal tersebut diatasi, maka haru siap siap membangun sebuah kebiasaan, artinya tidak bisa instant dan berhasil dalam sekejap. Untuk itu, dibutuhkan suatu pembiasaan yang harus terus menerus dilakukan sejak usia dini dan untuk itu konsistensi sangat diperlukan.

Semua elemen bangsa ini harus menyadari bahwa budaya membaca bangsa kita saat ini sangat rendah. Sejak era kecanggihan teknologi saat ini, maka hal yang menjadi daya tarik bagi anak-anak kita bukanlah lagi buku, namun gawai.

Untuk membangun budaya literasi, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan peran perpustakaan terkait dengan pengelolaan dan pelayanan. Seperti halnya koleksi buku, fasilitas dan lain sebagainya.Meningkatkan sosialisasi yang nantinya menjadi lokomotif  minat baca masyarakat. Hal ini merupakan sebuah tantangan berat sekaligus tanggung jawab  dalam upaya menanamkan budaya membaca.

 

Aqul Mashuri

Pustakawan Pertama IAIN Kediri

About author