Perpustakaan vs Media digital

Perpustakaan vs Media Digital

Di era teknologi digital saat ini masyarakat dimudahkan akan pencarian sebuah informasi serta kamunikasi yang simpel, cepat dan murah sehingga sebuah keinginan yang terngiang di otak pada saat itu juga sudah ada digenggaman.

Namun segala kemudahan yang diakibatkan dengan adanya memunculkan sebuah kekhawatiran akan keberadaan perpustakaan konvensional, pernah sekilas terdengar sebuah obrolan yang sangat mengusik “ kalau bisa didapat di internet ngapain mesti capek – capek mencari di perpustakaan “ ?????

Sebuah keragu raguan akan eksistensi perpustakaan konvensional, perlukah perpustakaan di era digital yang mana semua data, informasi dapat diperoleh tanpa beranjak dari tempat duduk  tinggal klikk dapat…..

Dan sebuah realita  yang terjadi dikalangan civitas akademika IAIN Kediri ( pejabat sampai mahasiswa ) tidak bisa terlepas dari internet baik yang mengakses melalui laptop  maupun badget baik dikantor, ruang kelas, di perpustakaan setiap saat setiap waktu.

Lalu bagaimana dengan civitas IAIN  yang mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan  untuk kepentingan ilmiah mereka, dan data menunjukan tidak kurang dari 500 pengunjung dari 9000 jumlah civitas IAIN Kediri memanfaatkan perpustakaan setiap harinya, sebuah realita yang ironis.

Dan anggapan bahwa media digital dalam hal ini adalah internet adalah segala – galanya untuk mendapatkan semua informasi adalah kurang tepat mengapa demikian ? sebuah penelitian di negara bagian Australia memaparkan bahwa

  1. Terdapat 4 milyar web dan hanya 6 % yang memuat tentang pendidikan
  2. Usia Web tidak lebih dari 2 bulan
  3. Google hanya mempu mengindeks 18 % halaman yang ada dari total semua halaman
  4. Rata – rata pengguna internet tidak pernah mengecek kebenaran dari informasi yang didapatkannya.
  5. Tidak semua informasi tersaji di internet, hanya 8 % berisikan tentang jurnal dan berbagai buku dari disiplin ilmu, sementara semua informasi ilmiah berasal dari jurnal dan buku
  6. Pengguna media digital sering kebingungan, buang – buang waktu bahkan prustasi ketika mencari sebuah topik di Hal ini terjadi karena informasi yang disajikan di internet kurang terorganisasi dalam menyajikan sebuah informasi
  7. Karena bersifat terbuka, maka sulit dipertanggung jawabkan dari segi kwalitas informasi yang disajikan serta sulit diindentifikasi sumber sumbernya

Lalu bagaimana dengan perpustakaan konvensional…..?  Perpustakaan IAIN Kediri

Segala bentuk informasi yang tersajikan sudah melalui peoses seleksi dan penyajian yang terorganisasi sesuai standar pengolahan dan pengadaan perpustakaan sehinga segala bentuk informasi yang didapatkan diperpustakaan dapat dipertanggung jawabkan serta berkwalitas tinggi namun karena kurang maksimal dalam segi layanan dan pengelolaan perpustakaan maka perpustakaan kurang dilirik oleh masyarakat.

Melihat realitas tersebut diatas begitu banyak masyarakat yang menggunakan media digital sebagai kiblat pencarian informasi  sementara banyak kekurangan yang dijumpai di media digital dalam menyajikan informasi  yang valid maka lembaga perpustakaan  dapat megambil peran secara maksimal dalam memberikan informasi melalui media dengan berbagai macam metode antara lain :

  1. Perpustakaan secara pro aktif mencari bahan pustaka merupa ebook dan menyajikan melalui web perpustakaan.
  2. Perpustakaan berbenah dan menyiapkan diri baik dari segi sumber daya manusia, sarana prasarana serta mengolah koleksi dengan sedemikian rupa untuk dapat ditampung da data base perpustakaan dan disajikan dalam bentuk online selama 24 jam dan 7 hari non stop
  3. Perpustakaan menyiapkan pustakawan yang handal serta profesional untuk memberikan layanan prima kepada pemustaka selama 24 jam melalui media digital termasuk internet
  4. Dengan banyaknya karya ilmiah hasil dari penulisan, penelitian maupun diskusi – diskusi yang berkwalitas dapat dibuat respositori sehingga dapat diakses melalui media digital setiap saat dimanapun dan kapanpun
  5. Era digital seperti saat – saat ini bukan merupakan sebuah momok bagi perpustakaan namun sebagai peluang bagi pengelola perpustakaan untuk lebih kreatif, inovatif untuk mengelola sumber daya perpustakaan agar menjadi produk yang bernilai jual bukan hanya pada civitas akademika namun untuk masyarakat umum dengan mengedepankan sebuah produk berkwalitas.

by Basit Aulawi

About author