Falsafah Jawa: Karomah Nusantara

Ghost Earth; sebuah prediksi era BBC Future Now pada tahun 2050. Penggambaran saat bumi kacau balau, kehidupan manusia saling bertikai, menindas antar etnis, kelaparan, peperangan dan kerusakan dimana-mana, amoral, bioseksual dan transgender serta fitnah antar golongan. Dunia digambarkan dengan sangat karut marut tanpa adab, krisis sosial, ideologi tanpa batas, masyarakat berjalan bebas rambo-rambo. Ironisnya, ternyata kekacauan ini akan disebabkan oleh pemimpin yang dzalim, pemimpin yang semenah-menah dan utopis.

Prediksi ini ada benarnya, Rasulullah pernah berpesan “nanti pada suatu saat bumi ini akan penuh dengan kerusakan, fitnah, (kezaliman) dan sikap kesemena-menaan. Karena manusia akan saling membunuh dan tidak perduli lagi dari mana harta atau rejeki yang dia dapatkan. Sampai pada tiba munculnya seorang pemimpin bernama “Al Mahdi”. Terkadang kalau diresapi dengan kontemplasi mendalam, era kita mulai resah . Konflik antar agama menggema dimana-mana, perebutan lahan, korupsi, fitnah politik dan asusila pendidikan. Apa mungkin Ghost Earth segera terjadi?

Atau ini masih dipersimpangan jalan? Dimana bumi memasuki masak rusak. Bisa jadi juga, penggambaran realita saat ini, babak baru dimulainya kerusakan manusia mengingat dari sejarahnya kita baru saja lepas dari cengkraman penjajahan, perang global, pemimpin otoriter, sekuler dan jenis masalah lainnya. Pemimpin memang menjadi kunci kemakmuran suatu peradaban. Bubarnya Uni Soviet saat dipimpin Mikhail Gorbachev karena serakah, Vietnam Selatan hancur gegara pemimpinnya yang komunis mencerca ideologis dan kepemimpinan Adolf Hitler membawa Germany berantakan. Sungguh hebat pengaruh pemimpin pada tataran perabadan dunia, global maupun nasional.

Namun perlu diingat, Indonesia (jauh dari pra-Kemerdekaan) juga pernah makmur sejahtera di bawah panji kerajaan Jawa, Madura, Kalimantan dan Aceh. Jauh sebelum Indonesia jumawa, dulunya merupakan wilayah kerajaan. Kehebatan cara raja memimpin didengar sampai ke luar negeri. Mereka ingin belajar pada kita, mengingat, nusantara belum bersatu terpisah ruah ke dalam serpihan kewenangan khusus, tapi kok negerinya tentram dan makmur. Diutuslah beberapa peneliti jempolan seperti Clifford Geertz dalam bukunya the relegion of java,  Hiroko Horikoshi “a traditional leader in time of  change”, dan banyak lagi lainnya. Mereka terpesona dengan gaya kepemimpinan para raja.

Menggambarkan kehidupan masyarakat dulu, dengan hari ini, membuat kita terkadang iri. Seakan ingin melewati lorong waktu kembali ke masa silam; tanpa rekayasa demokrasi, pengkondisian pemimpin, permusuhan politik kekuasaan, embargo pencitraan dan kata-kata lain yang bosan di telinga (jangan didramatisir terlalu dalam kefahamannya). Masa lalu negeri ini benar-benar hebat, bangsa ini disegani oleh banyak kerajaan di dunia. Beberapa hasil penelitian mengungkap, ternyata kehebatan negeri kita dulu disebabkan oleh para raja yang mampu menjalankan kewajibannya dengan sangat baik.

Beberapa manuskrip menceritakan kehebatan mereka. Hayam Wuruk, raja kerajaan Majapahit dahulu disegani oleh India dan China, karena kepemimpinannya yang merakyat. Kekuasaannya bahkan merambah sampai ke wilayah Semenanjung Malaya, saat ini menjadi negara Malaysia. Bukan karena kepandaiannya mengatur perdagangan internasional, bukan pula hubungan diplomasi yang anggun, namun Hayam Wuruk dikenal dengan sosok raja yang cinta kepada rakyatnya.

Jayabaya, penguasa kerajaan Kediri, Jawa Timur ini disebut sebagai raja terhebat dari seluruh raja di nusantara. Lantaran kedigdayaannya dalam berperang demi rakyat jelata, beliau mampu menjaga rakyat dengan cinta melalui keberaniaan.

Kartanegara, memimpin selama 20 tahun, mendidik rakyat dengan seksama, sampai Kaisar Mongol, Spanyol yang mencoba menguasai rakyat, harus pulang dengan tangan hampa. Ini hanya contoh kecil dari deretan kepemimpinan raja yang cinta pada rakyatnya.

Rahasia dibalik kehebatan para raja terutama di Jawa sebenarnya ada pada falsafah yang mereka anut. “Suro diro joyo ningrat lebur dening pangastuti“. Ya, ini sangat familiar jika membuka manuskrip Jawa. Falsafah kepemimpinan ini bukan sebuah prosa atau kalimat, namun meripakan unsur prinsipil, asas sebagai landasan menjadi pemimpin, sebuah sumpah yang disaksikan oleh langit dan bumi. Landasan asas falsafah tersebut adalah; keberanian, kekuatan, kejayaan, terpandang, hancur atau binasa dan kasih sayang. Keberanian untuk melawan musuh, kejayaan wilayah dan rakyatnya, menjadi kerajaan yang dihormati, menghancurkan ketidakadilan dan menabur kasih sayang.

Falsafah ini menyiratkan pemaknaan bahwa “Semua bentuk angkara murka yang bertahta dalam diri manusia, akan dapat dihilangkan dengan sifat-sifat lemah lembut, kasih sayang dan kebaikan“. Sifat lemah lembut, kasih sayang dan kebaikan adalah inti kehidupan untuk mengalahkan keangkara murkaan, keserakahan, kesombongan, kedzaliman dan segala hal yang mendatangkan kerusakan. Falsafah ini kemudian dianut oleh negara-negara Inggris dengan konsep sosialisnya, Arab Saudi dengan hubbul madinah-nya dan lain sebagainya. Bahkan pada perkembangan berikutnya, PBB menjadikan falsafah ini sebagai dalang lahirnya konsep human righ atau hak asasi manusia.

William Faulkner Penulis dan Peraih Nobel Sastra dari Amerika Serikat (1897-1962) mengatakan jangan pernah takut untuk mengangkat suara Anda untuk kejujuran dan kebenaran serta kasih sayang melawan ketidakadilan, kebohongan dan keserakahan. Sementara politikus dan pejuang kemanusiaan Mahattma Gandhi (1869-1948) pernah berkata, kasih sayang merupakan bentuk tertinggi dari sikap tanpa kekerasan. Banyak pemimpin sukses di muka bumi ini bukan karena kuat secara fisik, peralatan perangnya hebat dan anggarannya tak terbatas. Tetapi mereka sukses karena mengembangkan sifat-sifat kasih sayang.

Teringat sastrawan beken semacam Kahlil Gibran (1883-1931) fatwa-fatwa cinta dan sayang, “hakikat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang. Ia adalah cucuran air mata kesedihan langit pikiran. Ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga cinta”. Dengan cinta dan sayang kita dapat memperoleh berjibun keutamaan. Islam sendiri di bangun atas dasar kasih dan sayang. Nabinya Muhammad Saw, di sebut sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam.”wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin”.

Betapa banyak para pemimpin yang kurang berhasil memimpin sebuah bahtera kehidupan, karena mengabaikan hati, kasih sayang dan kebaikan sebagai fitrah kemanusiaan. Sebaliknya yang menjujung tinggi sifat-sifat kasih sayang, kedamaian dan ngayomi meraih keberhasilan. Memimpin harus dengan cinta. Memimpin juga harus dengan kasih sayang. Tidak berlebihan jika dikatakan kepemimpinan yang sebenarnya adalah kasih sayang dan cinta. “Suro diro joyo ningrat lebur dening pangastuti“. Wallahu a’lam bi al-shawab. Salam… (@D)

 

Oleh. Ruchman Basori*

*Ruchman Basori adalah Kasubdit Sarana Prasarana Kemahasiswaan Kemenag RI, sekaligus Mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Semarang (UNNES).

literasi

About author