Serpihan Wajah Toleransi di Solo, Antara Idul Fitri dan Hari Raya Paskah

Toleransi, bukan sekadar pembahasan basa-basi tanpa aksi. Toleransi itu tercermin dari aksi yang nyata, bukan hanya untaian kata. Mudah memang berkata “aku toleran”, tapi bagaimana dengan sikap yang ditunjukkan? Sinkron atau tidak? Seperti yang kita ketahui bahwa toleransi itu secara sederhana dapat diartikan sebagai sikap saling menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat. Berasal dari bahasa Latin tolerare yang artinya sabar dan menahan diri. Menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang berbau diskriminasi. Secara umum, toleransi dapat tercermin dari sikap menghargai pendapat orang lain, saling tolong-menolong antar sesama tanpa memandang perbedaan, dan sebagainya.

Toleransi bukan sebatas sikap menghargai perbedaan pendapat, ras, dan budaya saja. Toleransi itu luas sekali jangkauannya, misalkan toleransi antar umat beragama. Toleransi antar umat beragama dapat dimaknai sebagai sikap saling menghargai antar umat beragama. Toleransi antar umat beragama sendiri terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, toleransi negatif, di sini ajaran dan umatnya tidak dihargai tetapi tetap dibiarkan selama masih menguntungkan kelompok agama lain. Misalnya, masyarakat Indonesia membiarkan komunis dan ajarannya di zaman baru merdeka karena dianggap komunis menguntungkan posisi Indonesia yang saat itu berseberangan dengan Barat atau anti Amerika Kedua, teransi positif, toleransi ini tidak menghargai ajaran agama lain, tetapi menghargai pemeluk atau penganutnya. Ketiga, toleransi ekumenis, toleransi ini menghargai semua bentuk perbedaan, baik isi ataupun ajaran keyakinan individu lain dan toleransi pada pemeluknya. Di sini umumnya meyakini bahwa meskipun agama dan keyakinan berbeda, akan tetapi semuanya sama-sama benar dan memiliki tujuan yang sama.

Lantas, bagaimana kabar toleransi antar umat beragama di negara ini, negara dengan beragam agama yang hidup berdampingan? Apakah dengan perbedaan agama di Indonesia, toleransi masih ada dan tumbuh subur? Ya, Indonesia adalah salah satu negara dengan beragam agama yang mampu hidup berdampingan. Di sini toleransi masih ada dan tetap tumbuh subur. Perbedaan yang ada bukan alasan untuk meluruhkan toleransi, justru inilah yang memperkuat toleransi.

Toleransi antar umat beragama di Indonesia salah satunya tercermin dari umat beragama di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dengan umat beragama di Masjid Al-Hikmah, Solo. Toleransi telah tertanam sejak dahulu dan tetap dipertahankan hingga saat ini. Perbedaan agama yang ada, tidak menyurutkan semangat umat Kristen dan Islam untuk saling menjaga kerukunan. Sejak berdirinya Masjid Al-Hikam pada tahun 1947 dan berdirinya GKJ Joyodiningratan pada tahun 1937, toleransi semakin tumbuh subur. Hal  ini terlihat ketika pelaksanaan idulfitri jatuh tepat di hari Minggu, pengurus gereja menelepon pengurus masjid untuk menanyakan perihal pelaksanaan sholat idulfitri. Akhirnya, pengurus gereja mengubah jadwal ibadah yang biasanya dilakukan Minggu pagi ke Minggu siang. Hal ini bertujuan untuk menghargai umat Islam yang menjalankan shalat idulfitri agar lebih khusyuk saat beribadah.

Hal yang sama juga dilakukan oleh pengurus masjid ketika umat Kristiani GKJ Joyodiningratan melaksanakan ibadah paskah dan natal, pengurus masjid mempersilahkan umat Kristiani untuk memarkir kendaraannya di halaman masjid. Pihak masjid dan pihak gereja saling menghargai dan memberi kesempatan umat untuk bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk dan lancar. Kemudian, apabila ada oknum yang mencoba untuk merusak kerukunan antar umat beragama di tempat tersebut, pihak masjid dan gereja akan bergabung dan mencegahnya. Hal-hal yang terlihat kecil ini, sesungguhnya sangatlah mengesankan dan harus tetap dipelihara guna menjaga kerukunan antar umat beragama.

Nilai-nilai toleransi di negara yang majemuk ini sangatlah penting, jika toleransi minim, hak ini akan mengancam  dan menghancurkan bangsa Indonesia. Minimnya toleransi juga akan memicu terjadinya konflik dan peperangan yang membahayakan bangsa  Salah satu konflik yang paling berbahaya dan membawa pengaruh besar adalah ketika masalah agama dicampur adukkan dengan masalah politik. Hal ini sangatlah fatal dan akan membuat setiap individu saling bermusuhan ketika berbeda pendapat atau pandangan. Peristiwa tersebut merupakan ancaman yang dapat memecah belah persatuan dan kedaulatan Bangsa Indonesia dari dalam, yaitu masyarakat itu sendiri.

Melihat ancaman di atas, mengingatkan kita untuk selalu menerapkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang tercermin di desa penulis, yakni di Desa Bulusari.  Di sini, toleransi tumbuh subur, tercermin dari perilaku masyarakat yang selalu menghormati hak dan kewajiban masing-masing agama, saling berkunjung bagi para pemuka agama, tidak memaksakan agama kepada orang lain, bertukar hal positif, dan saling menyayangi anatar umat beragama.

Toleransi adalah kunci agar bisa hidup berdampingan di negara yang majemuk ini. Negara dengan beragam suku, agama, ras, adat, dan budaya pasti memiliki perbedaan yang komplek. Perbedaan yang ada ini janganlah dijadikan sebagai alasan terjadinya perpecahan bangsa, justru ini adalah sebuah kekuatan yang mampu menyatukan bangsa. Mari kita sebagai umat beragama, bersama-sama menyatukan langkah untuk kerukunan bangsa dengan menerapkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari. (EN)

 

Oleh. Zahrotul Sinta Nur Aini*

*Zahrotul Sinta Nur Aini adalah mahasiswi aktif prodi SAA IAIN Kediri (Email: zahrotulsinta6@gmail.com)

literasi

About author