Hedonisme Lebaran Indonesia di Musim Corona

0

Membaca buku Mocthar Lubis dalam mendeskripsikan karakter utama manusia Indonesia membuat saya mengernyitkan dahi. Beliau  mendeskripsikan manusia Indonesia dengan penuh hal-hal negative seperti  manusia Indonesia itu pada umumnya munafik, berjiwa feodal, percaya tahayul, memiliki watak yang lemah (inferior), enggan bertanggung jawab dan artistic. Hal ini sangat bertentangan dengan yang saya ketahui di lingkungan saya  dan deskripsi guru-guru saya di sekolah dasar hingga jenjang SMA yang mengatakan bahwa orang Indonesia ramah, penuh toleransi, saling hormat menghormati, gotong royong dan beberapa sifat yang baik lainnya, maka selama ini pula saya mencari-cari pembenaran atas keyakinan saya bahwa memang manusia Indonesia sebaik itu.

Akan tetapi semakin saya mendalami keyakinan saya, mencari-cari dari beberapa bacaan, melihat realitas social hingga mencari referensi melalui portal berita – baik cetak amaupun elektronik- yang saya dapati justru hampir yang dikatakan oleh Mochtar Lubis adalah yang sebenarnya menjadi karakter utama manusia Indonesia. Beberapa tokoh pun justru mencari-cari analisis kenapa manusia Indonesia bersifat demikian, pertama disebabkan oleh mental bangsa Indonesia yang terlalu lama dijajah oleh bangsa asing, dengan memuja-muja bangsa asing dan cenderung merendahkan bangsa sendiri, sifat kebencian bangsa Indonesia  terhadap bangsa yang menjajahnya seperti kisah percintaan anak muda, dia membenci kekasih karena melukainya tetapi disaat bersamaan dia merindukan dan memuja kehadirannya. Alasan yang kedua adalah manusia Indonesia bersifat demikian disebabkan oleh tanahnya yang terlalu subur sehingga membuat mereka malas berpikir dan berusaha, dikarena kondisi geografis yang memanjakan mereka, manusia Indonesia lebih menyukai hal-hal yang ada di luar mereka dan cenderung mengabaikan segala potensi baik yang mereka miliki.

Di musim pendemic seperti saat ini, manusia Indonesia benar-benar tertekan, mereka tidak terbiasa hidup dengan tuntutan kedisiplinan tinggi, mereka tiada terbiasa menjalani kehidupan lepas dari kehidupan nan komunal serta penuh pencarian ketenangan. Kesenangan dan kebahagian menjadi idealisme  kehidupan yang mereka jadikan tujuan tiba-tiba dirusak oleh kehadiran virus corona (covid-19). Hal ini mengingatkan saya dengan dua filosuf Yunani kuno Aristippus dan Epicurus. Mereka adalah peletak dasar dari filsafat hedonisme Yunani Kuno.

Dalam tulisan Gregory Sadler bertajuk Epicurus Handout: Comparison between Aristippus’ and Epicurus’ Hedonismdisebutkan bahwa hedonis menurut teori Aristippus meyakini bahwa di dunia ini hanya ada dua hal: kesenangan dan rasa sakit. Teori hedonisme kemudian dikembangkan oleh Epicurus. Jika Aristippus lebih banyak menekankan kesenangan secara fisik, Epicurus justru sebaliknya; ia menekankan pula kesenangan mental. Bahkan, kebahagiaan, menurut Epicurus, adalah tidak terganggu dengan adanya sakit secara mental maupun fisik. Dengan kata lain, kebahagiaan terbesar “greatest good” adalah kebebasan dari rasa takut dan ketiadaan rasa sakit. Sejalan dengan gagasan “meminimalisasi rasa sakit”, Epicurus juga menjelaskan bahwa hedonisme menekankan sikap memperbanyak kebahagiaan mental, misalnya mengobrol dengan teman.

Dari paparan di atas, seharusnya sekarang jelas hedonis itu apa dan bagaimana cara kerjanya. Hedonis, alias penganut hedonisme, adalah mereka-mereka yang menghindari rasa sakit, ataupun konsekuensi munculnya rasa sakit, demi kebahagiaan dan kesenangan yang natural dan necessary atau “memang diperlukan”. Dalam praktik etik, paham ini percaya bahwa semua orang di dunia memiliki hak untuk melakukan apa pun, dengan tujuan mencapai kebahagiaan. Lagi pula, hedonisme percaya bahwa kesenangan dan kebahagiaan seseorang haruslah jauh lebih banyak dan melimpah ruah jika dibandingkan dengan rasa sakit.

Dalam kondisi normal sebelum pandemic sifat hedonisme tipe Epicurus atau Ariistipus   yang ada di Indonesia tidaklah dapat dibedakan secara jelas di mana mereka mengekspresikan eksistensinya, karena memang hedonisme seperti telah menjadi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, baik untuk menjadikan kebahagian sebagai tujuan normative kehidupannya atau sekedar untuk melarikan diri dari rasa takut dan kesengsaraan. Hal ini dibuktikan dengan selalu ramainya tempat-tempat nongkrong, wisata, dan sumber-sumber kesenangan jasmaniah yang lain.

Mereka cenderung mencari kebahagian sebanyak-banyaknya untuk menghindari kesengsaraan demi mendapatkan tujuan hidup mereka. Kebahagian tersebut didapatkan dari kesenangan-kesenangan fisikal yang dapat mereka temukan dari hang out ke mall, ngobrol di  café,  berkumpul dengan teman setiap saat dan kapanpun mereka mau. Sifat hedon mereka sangat terlihat di saat hari Raya Idul Fitri tiba. Mereka merayakan kemenangan dari melawan hawa nafsu yang mereka tahan selama satu bulan di saat Ramadhan. Manusia Indonesia bahkan menjadikan mudik lebaran sebagai symbol kemenangan mereka dengan menunjukkan keberhasilan materiil mereka diperantauan kepada keluarga mereka di kampung halaman.

Bagaimana mudik sendiri menjadi simbol sifat hedonisme manusia Indonesia. Hal ini terlihat dari fakta sejarah yang ditemukan bahwa mudik sendiri Mudik dalam Bahasa Jawa Ngoko berarti mulih dilik yang berarti pulang sebentar saja. Namun kini, pengertian “mudik” lebih dikaitkan dengan kata udik yang artinya kampung, desa, atau lokasi yang menunjukan antonim dari kota. Arti kata “mudik” pun berkembang menjadi mulih udik yang artinya kembali ke kampung atau desa saat Lebaran tiba.

Sebenarnya tradisi mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah berjalan sejak sebelum zaman Kerajaan Majapahit. Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki. Namun istilah mudik lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Saat itu Jakarta sebagai ibu kota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Saat itu sistem pemerintahan Indonesia tersentral di sana dan ibukota negara melesat dengan berbagai kemajuannya dibandingkan kota-kota lain di Tanah Air.

Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib. Lebih dari 80 persen para urbanis datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan biasanya hanya mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja. Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk kembali ke kampung halaman serta sebagai ajang menunjukkan eksistensi keberhasilannya. Sekaligus menjadi ajang berbagi kepada sanak saudara yang telah lama ditinggal untuk ikut merasakan keberhasilannya di perantauan. Mudik juga menjadi terapi psikologis memanfaatkan libur Lebaran untuk berwisata setelah satu tahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan, sehingga saat masuk kerja kembali memiliki semangat baru bagi mereka.

Untuk kalangan agamawan dengan mudahnya menjadikan dalil hadis nabi Muhammad sebagai landasan teologis segala bentuk hedonisme tersebut. Abu Al-Hasan menjelaskan dalam Hasyiah As-Sindi ala An-Nasa’i perihal tersebut, bahwa sunnah dan kebiasaan para salaf (orang-orang dahulu):

مِنْهُ عُلِمَ أَنَّ التَّجَمُّلَ يَوْم الْعِيد كَانَ عَادَةً مُتَقَرِّرَةً بَيْنهمْ وَلَمْ يُنْكِرْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari hadits ini diketahui, bahwa berhias di hari ‘ied termasuk kebiasaan yang sudah ada di kalangan para sahabat, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  juga tidak mengingkarinya” .Dalam Fathul Bari, dijelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tentang berhias diri pada hari raya dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan diantara umat muslim terdahulu. Oleh karena itu, pada Hari raya dianjurkan untuk mempercantik diri dan memakai baju yang terbaik.

Di musim pandemic covid-19 sifat hedonisme tersebut tidak serta merta menghilang begitu saja, justru bertransformasi semakin menggila. Kebijakan pemerintah yang menerapkan pembatasan social berskala besar seolah percuma, karena memang pemerintah hanya berfikir secara positivistic dalam menilai rakyatnya. Namun secara hakikatnya pemerintah gagal dalam memahami sifat asli dari rakyatnya yang memang menjadikan hedonisme idealita kehidupan mereka, dan hasilnya dapat ditebak pemerintah gagal menanggulangi dampak penyebaran virus Corona yang sudah 3 bulan menyerang negeri ini yang semakin hari kurva penyebarannya bukan semakin melandai tetapi semakin meningkat. Pemerintah gagal menggunakan pendekatan preventif maupun represif dalam mengendalikan rakyatnya karena kurangnya informasi pemerintah dalam mengkaji sifat asli masyarakat Indonesia secara social-budaya dan ideologis.

Apalagi kebijakan yang diambil sangat tidak tepat waktunya, yaitu dimana setiap tahunnya puncak hedonisme rakyat Indonesia mencapai puncaknya, yaitu musim lebaran tahun 1441 M atau 2020 M. Lebaran adalah simbolisasi hedonisme tertinggi masyarakat Indonesia, bahkan tidak ada sesuatu hal yang dapat menghalangi perayaan kemeriahnnya. Mereka tidak memperdulikan ada ataupun tidak adanya  dasar normatif di dalam ajaran agama Islam bahwa wajib atau haram hukumnya memeriahkan hari Raya Idul Fitri, apalagi di masa pandemic seperti saat ini. Di saat kurva peningkatan penyebaran virus corona terus bertambah, seolah tidak ada hal yang patut mereka perjuangkan selain sifat hedonismenya, mereka mengabaikan segala perintah, baik bersifat preventif maupun represif.

Pusat-pusat perbelanjaan justru semakin ramai dibandingkan hari-hari sebelum himbauan untuk “tetap diam dirumah” semakin disistematiskan oleh Pemerintah. Pendekatan humanis maupun ancaman, penggunaan sangsi pidana dan perdata, seolah hanya isapan jempol belaka. Seolah-olah hedonisme adalah obat dari ketertekanan kehidupan mereka atas teror virus corona, mereka mengabaikan segala protocol kesehatan yang ada. Bukan hanya itu, dengan memanfaatkan program “jejaring social” yang Pemerintah laksanakan –seperti pembagian sembako, Bantuan langsung tunai (BLT), bantuan Program Keluarga Harapan (PKH)- untuk melampiaskan sifat hedonisme yang mengendap dipikiran mereka selama proses isolasi dirumah. Kemudian hasil yang didapatkan sudah bisa ditebak, peningkatan penularan virus corona justru semakin meninggi saat mendekati hari raya, yaitu hampir 1000 kasus terkonfirmasi per hari, – pada tanggal 23 Mei 2020 mencapai 949 per hari penambahan kasus positif virus corona dengan total secara kesuluruhan mencapai 21.745 kasus di 34 Provinsi di Indonesia.

Memang seharusnya kita sebagai muslim di Indonesia mengetahui hakikat merayakan hari Raya Idul Fitri, di mana dalam sejarahnya Idul Fitri sendiri dilaksanakan pertama kali di saat Nabi Muhammad dan para Sahabatnya memenangi peperangan dengan kaum kafir Quraish di dekat sumur Badar pada abad ke 2 Hijriyah, dan perang ini adalah perang terbesar dan perang yang  pertama kali umat Islam dengan Kafir Quraish. Tentunya kita semua sudah tahu ada satu hadis yang sangat terkenal dikalangan umat Islam yang membahas perihal jihad yang disabdakan Nabi Muhammad setelah pulang dari peperangan Badar. Nabi Muhammad bersabda bahwa mereka sebenarnya hanya pulang dari jihad (baca: peperangan) kecil –meskipun hanya dengan 313 orang  umat muslim dapat mengalahkan 3000 lebih pasukan Kafir Quraishy- menuju ke jihad  yang lebih besar, yaitu melawan hawa nafsu kita sendiri. Lantas kita saat ini sedang merayakan apa? Kemenagan Perang Badarnya? Kemenangan Perang melawan Covid-19 atau merayakan terbebasnya belenggu  hedonisme dalam diri kita. Salam… (@D)

Oleh. Mubaidi Sulaeman*

*Mubaidi Sulaeman adalah Magister Pemikiran Islam di UINSA Surabaya, juga merupakan Editor Karya Ilmiyah Nasional (mubaidisulaeman@gmail.com)

literasi

About author

No comments