Indahnya Toleransi dan Menawannya Asiah di Desa Bedug

0

Keberagaman dalam kehidupan bukan lagi hal yang mengancam, justru ini adalah anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri. Bersyukur karena dengan adanya keberagaman, hidup ini menjadi lebih kaya dan lebih indah. Dikatakan indah ketika kita mampu hidup berdampingan dengan beragam perbedaan yang ada. Seperti yang tercermin dari salah satu desa, yakni Desa Bedug.

Desa Bedug merupakan salah satu desa yang di dalamnya terdapat beberapa golongan agama Islam. Perbedaan golongan yang ada biasanya mengakibatkan warga memberi dinding pembatas yang berlebihan pada setiap jengkal kehidupannya. Di mana hal ini cenderung memicu adanya perpecahan yang tak disadari dalam masyarakat. Akan tetapi, nampaknya hal tersebut tidak berlaku di Desa Bedug Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Mengapa demikian? Dikarenakan masyarakat di Desa Bedug begitu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Meskipun berbeda golongan, masyarakat merasa tidak ada dinding pembatas diantara mereka. Mereka tetap bisa bergandengan tangan menjalankan kehidupan ini dengan prinsip saling menghargai satu sama lain.

Indahnya toleransi di Desa Bedug juga dilatar belakangi oleh sejarah awal munculnya beragam golongan di desa ini. Dahulu, di sini ada sebuah pondok yang dinaungi oleh Masyumi. Akan tetapi, setelah seorang Kyai yang mengelola pondok wafat, pondok tersebut berhenti beroperasi. Hal ini mengakibatkan masyarakat yang awalnya masuk Masyumi terpecah menjadi beberapa golongan. Perbedaan golongan yang ada tidak menjadikan hubungan masyarakat renggang, melainkan semakin erat dan saling memahami. Bahkan perbedaan ini membuat masyarakat semakin open minded dan semakin menjunjung nilai-nilai toleransi.

Desa Bedug tidak hanya menyajikan keindahan toleransi saja, melainkan juga menyajikan menawannya Asiah. Asiah adalah sebutan untuk perkumpulan arisan ibu-ibu yang ada di Desa Bedug. Arisan ini berbeda dengan arisan di tempat lain. Biasanya arisan identik dengan kegiatan bergosip alias ghibah, kemudian dibungkus apik dengan istilah silaturahmi antar warga. Asiah tidak seperti itu, Asiah adalah kegiatan arisan yang dijadikan sebagai ladang pahala oleh ibu-ibu yang ingin mengisi kesehariannya dengan kegiatan-kegiatan positif. Jadi, Asiah menekankan kegiatannya pada keagamaan dan kemanusiaan.

Kegiatan keagamaan diwujudkan dengan selalu mendatangkan penceramah saat ibu-ibu berkumpul untuk membayar arisan. Ini merupakan sebuah ide yang cukup simpel, menarik, dan bermanfaat untuk masyarakat yang mengikutinya. Dengan begitu, masyarakat akan mampu meningkatkan keimanannya. Bagaimana tidak? Setiap ada agenda arisan, ibu-ibu mendapatkan bonus pengajian dalam satu waktu. Alhamdulillah. Selain itu, Asiah juga mengajarkan arti kemanusiaan pada anggotanya dengan membantu anggota lain yang sedang berduka. Para ibu-ibu yang tergabung dalam Asiah akan memasakkan makanan selama tiga hari berturut-turut sebagai wujud kepedulian sosial dan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dan sesama anggota Asiah 

Tindakan untuk membuatkan makanan telah diajarkan oleh Rasulullah, di mana dalam hadits dari Abdullah Ibn Ja’far RA, ketika Ja’far ditimpa musibah, Rasulullah SAW pulang kepada keluarganya dan bersabda:

“Sesungguhnya keluarga Ja’far telah disibukkan oleh orang yang mati dari keluarga mereka, maka buatkanlah makanan untuk mereka.”

Hadits tersebut menjelaskan anjuran untuk membuatkan makanan bagi keluarga yang ditinggalkan, bukan keluarga yang tertimpa musibah yang membuatkan makanan kepada orang yang datang untuk melayat.

Lantas  mengapa hanya 3 hari saja anggota Asiah menyediakan atau memasakkan makanan bagi orang yang tengah mendapat musibah? Ini sama seperti saat Rasulullah SAW menyampaikannya kepada keluarga Ja’far ketika Ayahnya gugur dalam perang Mu’tah:

Dari Al Hasan Ibn Sa’ad dari Abdullah Ibn Ja’far berkata, Nabi SAW memberi tenggang waktu untuk keluarga Ja’far selama 3 hari, setelah itu beliau datang kepada mereka dan bersabda: setelah ini, janganlah kalian menangisi saudaraku. Setelah itu beliau bersabda : Undanglah kemari bani saudaraku. Kami lalu dihadapkan kepada beliau layaknya anak – anak ayam, lalu beliau lantas bersabda : Panggilkan tukang cukur kepadakau. Beliau lalu memerintah tukang cukur itu ( untuk mencukur ), hingga kami semua dicukur olehnya”. [HR. Abu Dawud dan Ahmad].

Namun ada kekhususan bagi seorang Istri, bahwa ia diperbolehkan berkabung atas suaminya lebih dari tiga hari, sebagaimana hadits berikut :

“Tidaklah boleh bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, untuk berkabung lebih dari tiga hari, terkecuali berkabung karena (ditinggal mati) suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Kepedulian yang ditunjukkan oleh anggota Asiah dilakukan berdasarkan kesadaran masing-masing anggota. Hal ini mampu mengungkapkan bahwa Asiah adalah ladang pahala bagi anggota-anggotanya. Asiah mampu meningkatkan pemahaman agama seseorang sekaligus meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama. Asiah begitu menawan dan menarik perhatian dikarenakan mampu mengemas kegiatan arisan yang dibalut dengan aktivitas keagamaan dan kemanusiaan.

Bukan hanya kegiatan arisan saja, Desa Bedug juga tetap mempertahankan kegiatan keagamaan yang lain. Kegiatan itu antara lain mengaji rutin setelah sholat maghrib untuk anak-anak, sedangkan untuk remaja, tergabung dalam remaja masjid yang mengadakan pengajian seminggu sekali. Lalu untuk lansia melakukan pengajian setiap hari Jum’at  dan warga umum mengadakan pengajian rutin setiap hari Minggu pagi di Masjid Besar Al–Arqom.

Desa Bedug, desa yang berhasil mengimplementasikan nilai-nilai toleransi, keagamaan, dan kemanusiaan patut dijadikan sebagai role model bagi desa-desa lainnya. Desa Bedug telah mengajarkan kita untuk selalu menjunjung tinggi toleransi, mengisi waktu dengan kegiatan positif, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Salam… (@D)

 

Oleh. Nur Azizah Yasmin*

* Nur Azizah Yasmin adalah Mahasiswi Aktive IAIN Kediri (miminyasmin1@gmail.com)

literasi

About author

No comments