Membaca Catur Pendidian Kita Yang Sedang Demam Parah

0

Ada yang geli dengan skenario Mendikbud menyambut tahun ajaran baru bulan depan. Bagaimana tidak, jika angka pasien Covid masih tinggi, maka siap-siaplah belajar online lagi. Bagaimana nasib pendidikan kita? Selama ini, metode ini bak musafir tersesat di tengah padang sahara. Rasanya asing, kalang kabut dan entah bagaimana cara menahkodai. Tenaga pengajar, tidak semua hidup di generasi Z (digital, read.), tidak semua juga paham tekhnologi, apalagi mempraktekkannya. Belum lagi yang diserang faktor rabun tua. Aduh… sukar membayangkan jika kegiatan ini masih terus berlangsung. Sekilas, mengetatkan protokol lebih efekif, seperti semua anak didik memakai masker dan menerapkan social and pycical dystancing di kelas.

Namun apakah ini dapat dipatuhi? Dan apakah mata rantai penyebaran virus rentan bertambah? Tentu segala aspek memuncah, membawa pada situasi yang dilematis. Tidak perlu muluk-muluk,di desa-desa biasanya anak kecil menganggap sekolah libur karena tidak ada aktivitas belajar-mengajar. Sekalipun ada, bermacam-macam bentuknya. Ada yang dihampiri ke rumahnya masing-masing, diberikan tugas rumah dan melalui teleconfrend. Namun apa yang terjadi? Semua tugas belajar, dikerjakan orang tuanya. Tenaga pendidik, tampak berkerut kebingungan bagamana menghadapi situasi kelut ini.

Pendidikan kita sedang demam parah. Bukan hanya tingkat sekolah, di perguruan tinggipun demikian. Dosen dengan usia rentan, didukung oleh sikapnya yang gagap teknologi, membuat para mahasiswanya gigit jari. Setiap minggu harus meresume materi kuliah, dikirim melalui email, entah dibaca atau tidak. Dibebankan membaca buku ini-itu, tanpa ada feedback. Disuruh membaca modul materi saja, tidak usah ada materi kelas online. Dan beragam metode lesu yang harus diambil. Pendidikan kita belum siap memalingkan hati pada dunia maya. Kurikulum, tenaga pendidik, anak didik, sarana dan prasarana, serta sejarahnya, kita belum siap menyandang “pembelajaran online” sepenuhnya.

Rasa bosan, malas dan tidak semangat. Rentetan penyakin belajar online hasil rangkuman Kompas.com. Sehebat apapun metodenya, materi yang disampaikan, ataupun retorikanya, pembelajran online yang terus menerus membawa pendidikan kita pada titik pangkal kebosanan yang begitu mendalam. Kalau tidak demi hak dan tanggungjawab, baragkali nasib pendidikan kita senasib seperti di India. Disana, pasca negaranya dilockdown semua aktivitas belajar-mengajar stop total. Sebab, tekhnologi dalam belajar itu membosankan, jenuh dan tidak efektif.

Betapa berharga seorang guru. Tidak ada yang mengalahkan peran guru belajar tatap muka dalam kelas. Sekalipun kecanggihan tekhnologi-pun. “Selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh tekhnologi”, seperti yang diungkapkan Imam as-Syafi’ie, “paling tepat belajar ilmu, adalah dengan mendengar langsung dari gurunya”. Atau dalam kitab ta’lim wa muta’aalim li al-adab, dijelaskan bahwa ada sebuah pribahasa ilustrasi, “Jika ingin mencari air, maka datanglah ke sumur”. Ilustrasi ini menandakan bahwa jika ingin menimba ilmu, datanglah ke guru (tatap muka).

Seperti pada tahun 1980’an, saat semua bank konvensioal ditinggakan nasabah, muncul bank muamalah sebagai bank berprinsip Islam. Nasabah dan investor akhirnya pindah hati. Saat ini, ketika pembelajran online dikeluhkan oleh semua negara, termasuk Amerika, rasa rindu pada konsep belajar Islam klasik tersembul kembali. Dulu, konsep belajran model Islam klasik dibanggakan dan dipuji. Kemudian redup karena mengalami pergeseran era. Sekarang, konsep pembelajaran tersebut banyak orang merindukan. Sebutlah model sorogan dan bandongan.

Apa hebatnya dua metode ini? Metode inilah yang menghasilkan pemikir-pemikir pentolan seperti Imam Syafi’e, Imam Hanafi, al-Maudidi, al-Qurtubi, Ibnu Sina, al-Farobi, dan ilmuan berpengaruh sampai sekarang. Sebuah metode yang memiliki tingkat keabsahan ilmu valid. Menampilkan sisi etika dan kebenaran arah pemahaman ilmu melalui koreksi yang sangat ketat. Namun sayangnya, produk murni ilmuan muslim ini kalah keren dibandingkan dengan produk luar yang lebih mapan dan bermerek.

Bagaimana cara menerapkannya di era pendemi Covid? Mudah sekali. Sorogan, ini lebih enak dipahami dengan metode pembelajaran one by one dengan bimbingan direct (langsung) dari tenaga pengajar. Seorang anak didik tidak perlu berada pada satu ruangan secara bersama, namun anak didik boleh belajar satu persatu. Ukurannya, adalah bukan pada kuantitas waktu ataupun jumlah anak didik, melainkan pada konten materi keilmuan yang dikuasai, apakah sudah patut menerima bahasan sub bab selanjutnya apakah tidak. Dengan metode ini, anak didik tidak akan berkumpul, akan terjadi physical distancing secara sendirinya, tanpa protokol.

Kemudian, yang kedua adalah bandongan. Metode klasik dimana tenaga pendidik melingkar kemudian mulai dijelaskan isi dari sebuah materi oleh tenaga pengajar. Yang antar anak didik yang satu dengan lainnya, saling mengevalusi hasil pembelajaran, khawatir terdapat kesalahan pemahaman. Metode ini hampir sama dengan metode hari ini. Bedanya, terletak pada metode bandongan menekankan pada sanad yang tersambung. Pernah dengar istilah “maen tongkat ajaib”? Ya seperti itulah, sesama generasi belajar pada guru, kemudian mengajarkan pada generasi selanjutnya dengan pemahaman yang sama. Model metode ini, dapat diterapkan dengan cara menuliskan dalam bentuk buku, kemudian buku tersebut dikonfirmasi.

Masyaallah, sungguh elok Islam menyusun konsep pendidikan. Semua situasi diukur dengan tingkat adaptasi yang terkira. Kelemahan belajar online, bisa kita siasati dengan mengikuti model pembelajaran Islam klasik. Jangan biarkan generasi kita terbuang waktunya dengan konsep yang semua negara keropotan mencara efektifitas. Inilah nasib pendidikan kita yang terbentang di nusantara. Salam… (@D)

 

Penulis : Hidayat Rahman*

*Hidayat Rahman adalah Dosen Sekaligus Kepala SMKN 1 Tuban dan SMKN Singgahan (plt) – peraih 20 SMK terbaik tingkat nasional 2020 (hidayatrahman.smk@gmail.com)

(Image co-past. https://mediaindonesia.com/)

About author

No comments