Dibalik Indonesia Terserah; Mitologi Covid-19

0

Beberapa hari lalu, akun sosial media diramaikan oleh postingan “Indonesia? terserah”. Menariknya, unggahan foto ini bersumber dari Twitter tenaga medis. Walhasil, postingan ini menjadi tranding topic terhangat sepanjang perjalanan Covid-19. Apakah tenaga medis sudah menyerah? Pertanyaan inilah yang muncul kemudian. Anehnya masyarakat tidak se-stress dulu. Mereka menanggapinya biasa saja. Entah karena bosan atau sudah pasrah. Pahadal setiap sore, kasus Covid-19 di tanah air melonjak tajam. Sepertinya masyarakat sudah jenuh dengan pandemi yang berlarut-larut. Kondisi ini mengingatkan penulis pada apatisme masyarakat di Wuhan menjelang normalisasi pandemi virus.

Setidaknya, postingan itu membuka ruas opini yang lebih dalam. Bisa jadi, tenaga medis gerah mengobati pasien Covid-19 setiap hari angkanya selalu gemuk. Bisa jadi pula, karena masyarakat Indonesia itu ngeyel-ngeyel. Mendengar tipe masyarakat Indonesia seperti ini, penulis teringat pada salah satu artikel. Bulan April lalu, Singapura melalui simulasi data artificial intelligence-nya melakukan tes prediksi ke 27 negara dengan melihat tipe masyarakatnya. Hasilnya pasti dapat diketahui besama, dalam masalah demikian, Indonesia selalu yang terdepan; Indonesia masuk tiga besar yang akan mengakhiri pandemi Covid-19 setelah Prancis dan Italia.

Pada artikel tersebut, ternyata Indonesia dicap sebagai masyarakat penganut paham “mitos” terakut sepanjang sejarah di dunia. Kemungkinan masyarakat dengan tipe ini, nyaris pasti tidak percaya hal-hal yang logis, seperti kesehatan. Apa benar penyebab kengeyelan itu disebabkan oleh label “masyarakat mitos” sehingga Indonesia menjadi penghuni terakhir yang terdera virus? Clifford Geertz dalam bukunya the relegion of Java, mencatat bahwa tipe masyarakat Indonesia bersumber dari Jawa, tipe masyarakat yang percaya animisme dan dinamisme. Sampai dengan hari ini, tipe demikian diwarisi oleh cucu-cucunya. Pendapat Clifford Geertz ini dipikir-pikir benar adanya. Kebudayaan kita berasal dari Jawa, yang bisa mempertahankan budaya, paling getol pribumi Jawa. Hampir semua kebudayaan Jawa itu memiliki mistisme yang kuat.

Asumsi penulis, ketenangan pandemi Covid-19 ini dipengaruhi oleh meningkatnya level pemahaman “mitos” akibat banyaknya kaum urban yang kembali ke pangkuan bumi kelahirannya. Kepercayaan terhadap mitos menjadi “obat tidur” yang sangat ampuh. Jika demikian, maka sebenarnya imuniasi tubuh bukan ditimbulkan dari obat-obat medis maupun buah-buahan, namun kepercayaan terhadap dunia mistis menggeliat ke dalam psikologi sampai membuahkan kekebalan tubuh. Apakah ini berarti, vaksin Covid-19 sebenarnya telah diatur oleh Tuhan sebagai hal yang alamiah pada tubuh dan pikiran manusia? Vaksin yang dihasilkan melalui kepercayaan pada mitos-mitos.

Tentu, hipotesis ini perlu dibuktikan dengan kegiatan ilmiah. Kita lihat beberapa testimoni yang membenarkan. Pertama begini, tanggal 11 April 2020 lalu Word Food Programme merilis data terbaru bahwa pasien Covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia, didominasi oleh orang-orang high income dan upper midle income. Ya benar, orang kaya mendominasi pasien Covid sampai dengan angka 83,39 persen. Masyarakat tipe ini, -meminjam istilah Max Weber- disebut masyarakat logois reality economy, atau dalam bahasa lain dikatakan “uang itu logis, Tuhan belakangan”. Masyarakat demikian, hampir pasti tidak percaya mitos dan segala sesuatu diukur dari logika, idea dan profit.

Yang kedua, pendera ini ternyata berasal dari masyarakat perkotaan yang paling banyak. Lebih tepatnya, mereka yang tinggal di bagian sudut kota. Beberapa hari lalu, detik.com memberitakan bahwa hampir kesemua pasien tempat tinggalnya di pusat kota, sekaliputn tidak, biasanya mereka bekerja atau pindah ke kota. Nah, ini bukan berarti di pedesaan kalah ramai atau minim aktivitas yang memancik keramaian. Namun, masyarakat kota tidak percaya dengan dunia mitos. Faktor paling riil, karena lingkungan mistis tersebar di pedesaan.

Cukup dua bukti saja, kita mengatakan bahwa mitos adalah imun paling mujarrab. Dengan demikian, sikap ngeyel masyarakat karena percaya mitos sebenarnya ada benarnya. Wong di desa-desa, bahaya Covid-19 kerapkap dianggap mitos. Lalu kenapa ngeyel dianggap masalah? Jawaban yang paling logis adalah karena ngeyelnya masyarakat miskin dengan ngeyelnya orang kaya itu berbeda. Ngeyel nya orang miskin, karena menganggap Covid-19 sebagai mitos, sedangkan orang kaya ngeyel karena ingin tidak mau merugi bisnisnya. Ini yang kemudian kontradiktif. Maka secara tidak langsung, postingan pada bagian tulisan paling atas tersebut, -prediksi penulis- lebih tepatnya dialamatkan pada model ngeyel yang kedua.

Arkoun, pernah menyinggung tentang kebenaran mitos dalam bukunya Roibin Relasi Agama dan Budaya Masyarakat Kontemporer, menurutnya, mitos itu bersumbe dari agama dan budaya. Kalau agama, tentu pedomannya al-Quran dan Hadist. Sedangkan budaya, berakar dari adat istiadat yang dibuktikan dengan pengalaman. Kebenaran mitos –meminjam bahasanya Arkoun- dikatakan “mitologi”, suatu kepercayaan berdasar agama dan budaya yang dikerjaan oleh masyarakat. Hal yang kasat mata dan mistis, diyakini benar. Itulah mitologi.

Allah yang memberikan penyakit, dan Ia pula yang menyembuhkan baik dengan cepat, sedang maupun dalam waktu yang lama. Pernyataan ini melahirkan mitos; “roh bisa menyembuhkan penyakit”. Sujono Soekanto, pernah menafsirkan kata “roh” itu sebanrnya adalah “tuhan”. Masyarakat Jawa dan Madura, kerap melakukan pengobatan pada dukun, tokoh agama maupun setaranya. Ini karena mereka yakin, Tuhan membukan pengetahuan kepada mereka. Maka kamipun memperkanankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya… (al-Anbiya’: 84). Ayat dalam al-Quran ini, sama sekali tidak logis jika dipikir, namun benar adanya usaha manusia itu tidak sepenuhnya dapat menyembuhkan, namun Tuhan yang punya otoritas. Inilah yang dimaksud dengan “mitologi”. Tidak semua penyakit, dapat disembuhkan dengan medis. Namun ada unsur mitos yang dapat menyembuhkan Covid-19. Pada akhirnya masyarakat Indonesia memerlukan proses “mitologi Covid-19”. Salam… (@D)

Penulis : Ruhullah Taqi Murwat*

* Ruhullah Taqi Murwat adalah Doktor UIN Sunan Kalijaga – Yogyakarta yang juga merupakan Dosen ISIF – Cirebon (ruhullahtaqimurwat@yahoo.co.id)

(image co-past. https://whitecoathunter.com/)

About author

No comments